#opini#islam#peradabanislam#kemajuanislam

Kunci Kemajuan Islam

( kata)
Kunci Kemajuan Islam
Ilustrasi. (Foto: Dok/Google Images)

DALAM buku yang ditulis Syaikh Syakib Arslan berjudul Mengapa Umat Islam Tertinggal?, penulis buku menyatakan penyebab kelemahan umat muslim masa kini adalah sifat pengecut dan kikir, lantaran umat muslim itu terlalu mencintai dunia. Sebaliknya, mereka membenci kematian.

Dua penggal kalimat itu memang tidak bisa dimungkiri tengah terjadi dalam kehidupan kita. Tentu, ketertinggalan yang dimaksud Syaikh Syakib jangan sampai dibiarkan berlarut. Kata “tertinggal” itu harus bersama kita ubah menjadi “kemajuan”.

Kemajuan umat Islam dapat tercapai apabila umat muslim bahu-membahu untuk saling membenahi perilaku berdasar tuntunan Alquran dan hadis. Bukan memperuncing sebuah perpecahan, apalagi sampai terjadi perang saudara. Namun, tantangan untuk menjadi umat yang maju nyatanya tidak mudah.

Membenahi Akhlak

Akhlak memiliki peran besar bagi diri manusia dan golongannya. Manusia yang berakhlakul karimah tentu memiliki watak yang terpuji nan mulia. Sebaliknya, manusia yang rusak akhlaknya akan susah untuk berpikir sehat dan benar. Bayangkan jika mayoritas muslim akhlaknya anjlok. Alih-alih membangun umat, perpecahanlah yang akan terjadi.

Sebut saja mengonsumsi narkoba, gemar menyebar fitnah, perbuatan asusila, dan sikap buruk lainnya. Perbuatan-perbuatan itu hanya akan menghancurkan tatanan kehidupan Islam yang sudah dibangun oleh ulama para pendahulu kita. Sedikit demi sedikit, perilaku negatif itu mengikis fondasi Islam. Jika dibiarkan berlarut, bukan tidak mungkin agama besar ini akan runtuh seiring keroposnya dasar keimanan.

Degradasi moral ini akan semakin masif apabila dimiliki oleh seorang pemimpin. Para pemimpin yang lupa akan amanah dan tanggung jawabnya lantaran silau akan harta dan kedudukan sejatinya dia sedang memberikan contoh buruk kepada rakyatnya. Padahal, HR Bukhari Muslim sudah dijelaskan yang artinya, “Setiap kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian”.

Dalam ajaran Islam, pemimpin yang dianjurkan itu adalah pemimpin yang amanah, jujur, berani, adil, dan bertanggung jawab. Contoh, beberapa waktu lalu, ketika akan berlangsungnya pemilu, para calon pemimpin memberi suap kepada masyarakat supaya memilihnya. Padahal, jika ingin bersedekah, bukankah lebih baik tidak dalam waktu atau situasi mendekati pemilihan tersebut. Untuk itu, mari mulai memberi jarak dengan sifat-sifat yang membuat akhlak dan akal kita menjadi rusak.

Menuntut Ilmu

Untuk membenahi akhlak, dibutuhkan ilmu. Masalahnya, terkadang kita tak cukup haus untuk memburu ilmu. Apa yang sudah didapat dirasa sudah cukup, padahal ilmu harus dituntut dari lahir hingga akhir hayat. Ilmu yang sepotong diperoleh kemudian diaplikasikan ke dalam kehidupan saja rentan menimbulkan salah paham, apalagi jika kita puas dengan kefakiran ilmu kita.

Seperti yang dijelaskan dalam Alquran QS Al-Isra: 36 yang artinya, “Dan, janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya, pendengaran penglihatan dan hati semuanya itu akan diminta peranggungjawabannya.”

Maka, janganlah umat muslim cepat berpuas diri dan jangan pula mudah berputus asa. Jika merasa gagal dalam mengerjakan sesuatu, jangan patahkan semangat untuk tidak mencoba lagi. Sebab, di balik kegagalannya itu, ada rencana yang sudah disiapkan Allah swt jika umatnya terus mencoba dan tidak cepat putus asa. Man jadda wajada, artinya barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka dapatlah ia. Untuk itu, kita sebagai umat Islam harus berusaha keras dan janganlah cepat putus asa.

Perbanyak Syukur

Untuk meneguhkan keistikamahan kita itu, perkuatlah dengan melisankan syukur. Betapa melimpahnya nikmat yang Allah swt berikan kepada kita. Insya Allah, rahmat Allah selalu tercurah kepada hamba-Nya yang bersyukur. Seperti dijelaskan dalam QS Ibrahim: 7 yang artinya, “Jika kalian bersyukur, pasti akan aku tambah nikmat-Ku padamu. Namun, jika kalian kufur, sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih”.

Yaknilah, bahwa dalam mengerjakan sesuatu, Allah swt selalu berada di samping kita. Tinggal kita dituntut untuk bekerja lebih keras untuk menggapai cuta-cita kita mewujudkan umat Islam yang maju. QS Ar-Ra’d: 11 menjelaskan, “Sesungguhnya, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri”. Kita sebagai umat Islam harus percaya bahwa apa yang kita tuju, selagi masih di jalan yang benar, Allah swt selalu mendampingi usaha kita, apalagi jika umatnya mau bekerja keras dan bersungguh-sungguh.

Nadya Kurnia Ayu/ Mahasiswa UIN Raden Intan Lampung

Berita Terkait

Komentar