#perawatjumraini#unjukrasa#beritalampura#malapraktikjumraini

Kronologi Perawat Jumraini Sampai ke Meja Hijau

( kata)
Kronologi Perawat Jumraini Sampai ke Meja Hijau
Ribuan perawat se-Lampung melalukan jalan kaki dari Satdion Sukung Kotabumi ke kantor PN untuk melakukan aksi damai, Kamis, 3 Oktober 2019. Lampost.co/Hari Supriyono

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co): Ribuan perawat yang tergabung dalam Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) se-Lampung menggelar demonstrasi di depan kantor Pemkab Lampung Utara dan Pengadilan Negeri setempat, Kamis, 3 Oktober 2019. Aksi itu bentuk solidaritas dan keprihatian terhadap kasus yang menimpa Jumraini, perawat yang dipenjara karena dugaan malapraktik.

Dewan Perwakilan Wilayah-Persatuan Perawat Nasional Indonesia (DPW-PPNI) Provinsi Lampung merinci kronologi sampai akhirnya Jumraini dituduhkan melakukan malaprakti. Kisahnya dimulai pada 15 Desember 2018, sekitar pukul 21.00 WIB, ketika Alex, 19, datang meminta tolong kepada Jumraini. Alex dan Jumraini memang bertetangga. Mereka tinggal di Desa Peraduanwaras, Kecamatan Bumiagung, Kabupaten Lampung Utara.

Alex meminta Jumraini, perawat yang sudah 11 tahun bekerja sebagai tenaga sukarela di RSUD Kotabumi, mengobati lukanya. Jumraini memeriksa luka tersebut dan menanyakan penyebabnya. Karena luka itu sudah bengkak dan memerah.

Alex mengaku luka tersebut akibat tertusuk paku kandang ayam. Setelah memeriksa luka itu, Jumraini menyarankan Alex berobat ke Puskesmas.

Pada 18 Desember 2018, Arena, adik perempuan Alex, mendatangi rumah Jumraini. Itu sekitar pukul 16.00 WIB. Arena meminta Jumraini kembali mengobati Alex. Arena memohon karena luka pada tubuh Alex tak sembuh-sembuh meski sudah berobat di Puskesmas.

Arena sempat menunjukkan kepada Jumraini obat-obatan yang diberikan Puskesmas untuk Alex. Obat itu terdiri dari Amoxicillin, Paracetamol, Vitamin C, dan CTM. Arena bersikeras, lalu membawa Alex kepada Jumraini.

Jumraini jatuh iba begitu melihak kondisi Alex. Pemuda itu terlihat pucat. Alex juga tak henti merintih.

Jumraini akhirnya memeriksa luka Alex. Ternyata sudah infeksi. Sudah parah. Lukanya membengkak, berwarna biru, juga mengeluarkan darah dan nanah.

Jumraini juga mengecek suhu tubuh Alex. Badannya panas. Suhu tubuhnya pun mencapai 39,5 0 C.

Jumraini sempat bertanya kenapa luka itu sampai dibiarkan parah. Arena mengatakan Alex sering menusuk luka itu menggunakan jarum karena merasa setelah ditusuk kondisinya jauh lebih enak. Jumraini lantas menyarankan Alex berobat ke rumah sakit atau dokter.

Namun Arena mengatakan tidak memiliki biaya untuk berobat ke rumah sakit maupun dokter. Arena memohon untuk dilakukan pengobatan dan Alex rebahan di teras rumah perawat Jumraini.

Akhirnya perawat Jumraini melakukan tindakan perawatan luka yaitu membersihkan dengan air hangat dan menekan luka untuk mengeluarkan nanah dan darah dengan menggunakan pinset anatomis yang sudah dilindungi oleh kasa steril. Perawatan luka sekitar 30 menit.

Alex meminta obat karena susah tidur dan badannya panas. Jumraini memberikan Paracetamol, Antasida, Asam Mefenamat, dan Allergen (CTM). Jumraini menutup luka Alex dengan kain kasa karena sedang musim hujan. Jumraini juga tetap menyarankan Alex ke rumah sakit dan ronsent. Tapi, sambil menyerahkan uang Rp50 ribu untuk Jumraini, lagi-lagi Arena mengaku tak punya uang untuk berobat ke rumah sakit atau dokter.

Pada 21 Desember 2019, Arena datang ke rumah Jumraini sekitar pukul 10.00 WIB memberitahukan bahwa Alex masuk RSUD Kotabumi. Sebab lukanya makin parah. Namun Jumraini tidak ada di rumah. Dia sedang bertugas di RSUD Kotabumi.

Singkat cerita, karena lukanya sudah begitu parah, Alex akhirnya meninggal. Pemuda itu mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 16.00 WIB, di RSUD Kotabumi.

Deni Zulniyadi

Berita Terkait

Komentar