#penganiayaan

Kronologi Penganiayaan Nakes Puskesmas Kedaton Terungkap di Persidangan

( kata)
Kronologi Penganiayaan Nakes Puskesmas Kedaton Terungkap di Persidangan
Ilustrasi penganiayaan. Foto:Istimewa


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Sebanyak tiga terdakwa kasus penganiayaan tenaga kesehatan (nakes) Puskesmas Kedaton menjalani sidang di PN Kelas IA Tanjungkarang, Kamis, 14 Oktober 2021. Mereka adalah Awang Helmi (44), Novan Putra Abdillah (32), dan Didit Maulana (31), warga Bandar Lampung.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Eka Aftrarini mengatakan, ketiganya didakwa pasal 241 ayat (2)  KUHP dan pasal 335 ayat (1) KUHP. Pengeroyokan bermula saat ketiganya mengelilingi kota Bandar Lampung untuk mencari oksigen karena orang tua mereka sedang terpapar Covid-19 pada 4 Juli 2021. Mereka sempat mendapatkan kabar jika ada tabung oksigen di Puskesmas Kedaton, dan bergegas menuju ke sana.

"Pada saat itu terdakwa bertanya kepada korban (Rendy Kurniawan), perawat yang sedang piket, apakah ada oksigen untuk dibawa pulang atau dibeli karena orang tuanya sedang sakit. Lalu korban menjelaskan tidak bisa, disini (Puskesmas Kedaton) tidak menjual tabung oksigen dan jika ada tidak bisa dibawa pulang juga tabung oksigennya karena sesuai dengan SOP Puskesmas Kedaton hanya diperuntukan untuk pasien yang berobat di Puskesmas tersebut. Korban menyarankan jika memang kondisi pasien mendesak bisa langsung dibawa kerumah sakit saja," ujar JPU saat membacakan tuntutan.

Kemudian, korban juga menegur ketiga terdakwa agar memakai masker dengan baik, menutup hidung dan mulut jangan hanya sekedar menutup dagu saja. Namun terdakwa tidak terima dengan ucapan korban.

Selanjutnya terjadi cekcok, terdakwa Awang mengaku datang bersama Novan yang menurutnya anggota kepolisian, dan berdalih kalau dirinya merupakan adik dari Kadinkes Provinsi Lampung Reihana.

"Dengan harapan saksi korban menjadi takut dan mau menyerahkan tabung oksigen tersebut. Namun saksi korban hanya diam saja dan tetap dengan SOP Pelayanan di Puskesmas Kedaton dengan tidak memberikan tabung oksigen untuk bukan pasien rawat inap Puskesmas Kedaton," lanjut JPU.

Lalu, terdakwa Novan emosi dan mengajak korban keluar sambil menunjuk ke arahnya, dan mendorong serta memepet tubuh korban sehingga korban tersudut dan mundur hingga ke tengah lorong. Selanjutnya, Awang memerintahkan terdakwa lainnya untuk menghajar korban, dan Noval merangkul leher korban dengan tangannya lalu memukul ke arah wajah korban sebelah kiri sebanyak lima kali. Awang juga ikut memukul ke arah wajah sebanyak tiga 3 kali dan diikuti oleh Didit yang ikut memukul secara bergantian sebanyak tiga kali.

"Hingga saksi korban terpojok di pintu belakang, lalu datang saksi (rekan perawat) yang mendengar suara ribut-ribut dan melerai pemukulan yang dilakukan oleh para terdakwa sambil berkata sudah jangan dipukuli lagi," paparnya.

Terdakwa Didit sempat mengambil batu paving untuk dipukulkan ke korban namun dilarang terdakwa Noval. Para terdakwa lalu meninggalkan korban.

Kuasa hukum para terdakwa menyebutkan kliennya tidak mengajukan eksepsi sehingga sidang selanjutnya pada 21 Oktober 2021 akan datang, dengan agenda pemeriksaan saksi.

"Tidak ajukan karena dakwaan sudah sesuai," ujarnya.  

Menurut Sujarwo penyebab pengeroyokan terjadi karena ketiganya dalam keadaan terdesak untuk mencari tabung oksigen yang langka sementara orang tuanya sangat membutuhkan.

"Tujuannya mulia untuk membantu orang tua yang sedang sakit, tapi lihat substansinya, mereka tidak punya niat untuk melakukan penyerangan dan pemukulan, karena ada interaksi terdakwa dengan korban, sehingga ada pemukulan," paparnya.

Sujarwo menyebut saat itu pemerintah tidak mampu menghadirkan tabung oksigen pada saat pandemi covid-19 sedang tinggi dan sangat dibutuhkan. Apalagi tak lama berselang, sang ayah meninggal dunia.

"Kita hargai proses peradilan cuma kemanfaatan hukum harus kita ke depankan. Sementara Covid-19 sudah berlalu, tapi masih menangani hal begini jadinya kontraproduktif," paparnya.

Winarko







Berita Terkait



Komentar