#rusiaukraina#beritainternasional

Krisis Energi di Eropa Makin Parah, Erdogan Salahkan Sanksi ke Rusia

( kata)
Krisis Energi di Eropa Makin Parah, Erdogan Salahkan Sanksi ke Rusia
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebut sanksi Rusia ciptakan krisis energi di Eropa./AFP


Ankara (Lampost.co) -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyalahkan sanksi yang dijatuhkan pada Rusia atas invasinya ke Ukraina. Sanksi tersebut menyebabkan krisis energi di Eropa.

Erdogan mempertahankan hubungan kerja yang baik dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Ia mencoba bersikap tetap netral dalam konflik ini dan memasok Ukraina dengan senjata serta pesawat tak berawak.

Ia mengatakan, negara-negara Eropa memanen yang mereka tabur dengan memberlakukan pembatasan ekonomi di Rusia.

"Sikap Eropa terhadap Putin, sanksinya, membuat Putin rela atau tidak berada pada titik yang mengatakan, 'Jika Anda melakukan ini, saya akan melakukan itu'," ucap Erdogan, dilansir dari Al Arabiya, Selasa, 6 September 2022.

Baca juga: Perang Rusia Ukraina Bisa Jadi Kesempatan Lampung untuk Ekspor Tepung

"Dia menggunakan semua sarana dan senjatanya. Sayangnya, gas alam adalah salah satunya," sambungnya.

Komentar Erdogan ini menggemakan yang disampaikan Kremlin pekan ini. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov menyalahkan penghentian pengiriman gas Rusia ke Jerman melalui pipa Nord Stream.

Rusia menyumbang hampir setengah dari pembelian gas alam Turki tahun lalu. Ankara berjanji untuk secara perlahan beralih membayar impor Moskow dengan rubel pada pertemuan puncak antara Erdogan dan Putin di Sochi awal bulan ini.

Analis percaya kesepakatan itu akan memastikan Rusia akan terus memasok Turki dengan gas melalui pipa TurkStream yang berjalan di bawah Laut Hitam. Erdogan mengatakan tidak mengharapkan Turki mengalami kekurangan energi tahun ini.

"Saya pikir Eropa akan memiliki masalah serius musim dingin ini. Kami tidak memiliki situasi seperti itu," katanya.

Lonjakan harga energi global yang disebabkan gangguan pasokan Rusia memicu krisis ekonomi di Turki. Hal itu menyebabkan inflasi tahunan melonjak hingga 80 persen dan nilai lira jatuh.

Effran Kurniawan








Berita Terkait



Komentar