#gamelan#alatmusik#humaniora#beritalampura

Kreasi Pembuatan Alat Musik Gamelan dari Barang Bekas

( kata)
Kreasi Pembuatan Alat Musik Gamelan dari Barang Bekas
Pengrajin gamelan, warga Ratu Abung, Kecamatan Abung Selatan, Liono, menunjukkan hasil  kreasi alat musik gamelan yang dibuatnya. Lampost.co/Yudhi Hardiyanto

KOTABUMI (Lampost.co) -- Berawal dari keprihatinan karena mahalnya harga alat musik gamelan tradisional yang dikeluhkan pengelola sanggar kerawitan, berbekal kreatifitas, Liono, warga Ratu Abung, Kecamatan Abung Selatan mengolah barang bekas yakni pipa besi dan kayu racuk sebagai bahan pembuatan alat musik tradisional gamelan seperti demung dan saron.

Sat ditemui Lampost.co, Rabu, 2 Oktober 2019, Liono mengatakan keluhan rekannya sesama pekerja seni pengelola sanggar kerawitan yang ada di Lampung Utara tentang mahalnya harga alat musik gamelan juga dia rasakan sebagai ketua Sanggar kerawitan dan seni 'Mardi Miromo' di Desa Ratu Abung, Abung Selatan.

Dari kondisi tersebut, berbekal keahlian pertukangan dan pengetahuan akan nada musik jawa selama di sanggar kerawitan, Liono membuat alat musik tradisional gamelan. "Bila menggunakan bahan dasar kuningan dan kayu berkualitas, harga alat gamelan seperti demung dan saron satu setnya sekitar Rp3 - 5 juta tergantung kualitas dan ukuran. Bila pembuatannya menggunakan barang bekas, seperti pipa besi dan kayu racuk, harganya dapat di tekan lebih dari setengah harga normal," ujarnya.

Modal bahan baku yang dibutuhkan untuk dua alat musik tersebut, lanjut dia, untuk demung ukuran panjang 85 cm dan lebar 22 cm harga bahan yang dibutuhkan menghabisakan biaya berkisar Rp70 ribu. Sedangkan saron dengan panjang 70 cm dan lebar 18 cm modal membeli bahannya berkisar Rp50 ribu.

"Saya sudah membuat perangkat gamelan dengan bahan bekas sejak 2000 lalu, karena menilik dari keprihatinan mahalnya harga gamelan yang banyak dikeluhkan pengelola sanggar kerawitan dan untuk jasa pembuatan, tergantung kesepakatan bersama," kata dia.

Bila ada pesanan, sehari, dia bisa membuat perangkat gamelan dari barang bekas untuk demung dan saron antara 2--3 set. "Dalam pembuatan ini saya tidak memperhitungkan omzet. Karena saya ini juga pekerja seni dan tahu keluhan-keluhan para pekerja seni yang lain. Saya berharap, musik tradisional gamelan akan tetap lestari," harap dia.

Yudhi Hardiyanto

Berita Terkait

Komentar