#kotamati#gunung#anakkrakatau#beritalamsel

Kota Mati

( kata)
Kota Mati
Dokumentasi Lampost.co

SEPANJANG sejarah di tempatku, Kota Kalianda, Lampung Selatan, baru kali ini malam Tahun Baru seperti kota mati. Tidak ada kembang api, tidak ada terompet, tidak ada konvoi, tidak ada acara ataupun keramaian. Pelajaran dari tsunami. Kota itu sunyi senyap. Warga seakan terlarut dalam duka mendalam yang tiba-tiba melanda.

Kutipan kalimat-kalimat di atas adalah status WhatsApp rekan saya yang tinggal tepat di belakang Dermaga Bom Kalianda, Lampung Selatan. Lokasi ini menjadi salah satu tempat yang luluh lantak diterjang gelombang tinggi atau tsunami pada malam Minggu atau Sabtu, 22 Desember 2018. 

Namun, rasa syukur tetap harus dia panjatkan, walaupun berada di belakang Dermaga Bom Kalianda yang masuk wilayah pesisir dekat pantai, kondisi rumahnya aman-aman saja walaupun terkena banjir. "Aman. Baik-baik saja enggak ada yang rusak. Cuma kebanjiran saja," kata dia. Keluarganya juga pun aman-aman saja, sehat semua, dan mereka pun tidak mengungsi.

Akan tetapi, tidak jauh dari lokasi rumahnya, banyak rumah yang hancur terkena terjangan ombak laut, bahkan banyak yang meninggal akibat peristiwa itu.

Bagaimana tidak, jarak rumah dengan bibir pantai cukup dekat. Dari pinggir jalan pun kita bisa melihat pantai, melihat laut. Tak ayal, terjangan ombak tsunami pun mengenai rumah-rumah warga ketika peristiwa malam itu terjadi. Banyak rumah rusak, banyak yang meninggal, termasuk anak-anak.

Majalah Tempo, Badan Geologi, serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menduga longsor dari erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) menjadi pemicu tsunami di Selat Sunda yang melanda wilayah Banten dan Lampung, termasuk di pesisir Kalianda, Lampung Selatan, Sabtu, 22 Desember 2018. Karena itu, tsunami ini unik lantaran tanpa didahului gempa bawah laut.

Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi. Erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan longsoran yang menimbulkan tsunami dengan kecepatan air laut 200 kilometer per jam. Sungguh bencana yang begitu dahsyat. Namun, peristiwa ini sudah terjadi. Dan, seperti kata teman saya tadi, pelajaran dari tsunami. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari peristiwa ini. Semoga kita semakin dekat dengan Sang Pencipta Alam Raya, Allah swt. 

Duka ini tidak boleh berlarut. Iktibar dari tragedi ini sudah kita dapatkan. Warga Lamsel harus bangkit lebih kuat; lebih siap untuk mengantisipasi bencana. Lamsel tidak sendiri. Kami saudara-saudaramu siap memapahmu untuk tegak berjalan kembali mengarungi kehidupan yang tenteram di Bumi Ruwa Jurai.

Ricky P Marly, Wartawan Lampung Post*



Berita Terkait



Komentar