#generasiemas#perundungan

Korban Perundungan Tidak Mengenal Usia

( kata)
Korban Perundungan Tidak Mengenal Usia
perundungan. kompasiana.com

BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Perundungan bisa terjadi kepada siapa saja dan kapan saja, tidak mengenal usia dan siapa korbannya. Korbannya bisa anak usia balita, remaja, hingga orang dewasa.
Pengajar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Ratna Djuwita, mengatakan tindakan perundungan tidak boleh dibiarkan dan terus berulang. Biasanya korban perundungan bukan karena seseorang yang memiliki masalah, melainkan dianggap lemah dan tidak akan melawan.
Ratna menyebut karakteristik pelaku perundungan umumnya memiliki kebutuhan tinggi untuk mendominasi orang lain, punya pandangan positif terhadap kekerasan, kemampuan empati dan toleransi yang rendah, atau orang yang bermasalah di lingkungan sekitarnya. “Bila pelaku bullying adalah orang bermasalah di lingkungannya, terkadang pelaku juga adalah orang cukup pandai dan mudah bergaul di tempatnya,” kata Ratna, saat memberikan materi seminar perundungan dan penanganannya yang digagas Himpunan Psikologi Indonesia Wilayah Lampung, di aula Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Sabtu (11/11/2017).
Secara umum, Ratna mengatakan karakteristik korban perundungan terbagi dua tipe. Pertama adalah tipe klasik, yaitu seseorang yang terlihat selalu cemas, mudah menyerah, tidak percaya diri, dan berfisik lemah. Kedua adalah tipe provokatif yang sering disebut sebagai bully victim.
“Tipe provokatif bisa dikatakan adalah orang yang juga pernah menyakiti orang lain akibat dari agresivitas yang dilakukannya dan dianggap menyebalkan oleh teman-temannya sehingga suatu ketika bila ada yang membalas perbuatannya, seperti di-bullying, bisa juga dikatakan sebagai korban,” kata dia.
Tanda-tanda anak yang menjadi korban perundungan biasanya perilakunya menjadi pendiam, murung, dan mudah tersinggung, tidak ingin bercerita tentang peristiwa yang dialami, sulit tidur dan pencemas, mengatakan tidak mempunyai teman, serta prestasinya menurun. “Bila korban bullying adalah pelajar biasanya dia enggan ke sekolah atau enggan mendatangi tempat korban di bullying,” ujarnya.
Ratna menyarankan untuk membantu korban agar beban yang dirasakannya berkurang, buatlah agar si korban mau membuka diri, dan memberikan pemahaman bahwa hal tersebut bukan karena kesalahannya, serta mengajak diskusi untuk mencegah kejadian perundungan berulang. “Korban biasanya malu bercerita apa yang dialami, terutama kepada orang dewasa. Langkah mengatasinya adalah dengan cara pendekatan melalui sahabatnya agar mendorong korban membuka diri, agar mendapatkan tempat mencurahkan isi hatinya,” kata dia.
Bila korban perundungan adalah anak-anak, Ratna menyarankan agar orang tua atau guru segeralah menghentikan perbuatan pelaku saat peristiwa terjadi dan ajak keduanya mendiskusikan apa yang terjadi, agar tidak terulang.
Bullying pada anak-anak cegahlah secara langsung pada saat kejadian dan coba bela korbannya. Ini bisa mengurungkan niat pelaku untuk melakukan bullying,” kata dia. 

Yusmart Dwi Saputra

loading...
<<<<<<< .mine
loading...
||||||| .r621
loading...
=======
>>>>>>> .r624

Komentar