#kriminal#perampokan#beritalamsel

Korban Perampokan di Sidomulyo Masih Trauma

( kata)
Korban Perampokan di Sidomulyo Masih Trauma
Slamet (60), korban perampokan di Dusun Purwodadi, Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan. Lampost.co/Perdhana Wibisono

Kalianda (Lampost.co): Panas terik siang itu, Lampost.co menyusuri jalan yang sudah di rabat beton menuju rumah Slamet (60), korban perampokan di Dusun Purwodadi, Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan.

Rumah permanen cat warna putih disisi kanan ada garasi, sedangkan disisi kiri ruang yang biasa untuk menyambut kedatangan tamu dan pembeli tempe.

Slamet merupakan salah satu pengusaha tempe yang terbilang sukses, karena usaha yang ditekuninya sejak puluhan tahun sudah banyak pelanggan.

Sehingga setiap harinya Slamet sudah tidak perlu repot keliling kampung menjual tempe hasil buatan sendiri, para pelanggan yang pada umumnya pedagang sejak subuh sudah berdatangan.

Sesampainya di ruangan itu, sambutan hangat dari Basyiah (57) yang merupakan istri Slamet, terlihat jelas meskipun diwajahnya ada benjolan akibat dibenturkan oleh komplotan perampok.

Sambil mempersilahkan masuk dan duduk, ia memanggil suaminya yang sedang istirahat setelah sehari semalam dirawat di klinik kesehatan.

"Sudah habis tiga botol infus selama di rawat," kata Slamet mengawali perbincangan, Senin 24 Februari 2020.

Pada waktu kejadian, dirinya sedang tertidur lelap, tiba-tiba komplotan perampok yang menggunakan penutup wajah datang menghampiri dan mengikatnya, Minggu 23 Februari 2020, sekitar pukul 04.00.

"Saya itu sedang tidur, jadi masih setengah sadar dibekap dan diikat. Tangan diikat dari belakang, kaki ikut diikat menggunakan seutas tali rapia, lalu digulung dengan kasur tipis yang biasa digunakan untuk tidur.

"Pada saat diikat dan digulung, saya berontak minta tolong," ujar dia.

Mendengar teriakan itu, para perampok memukul kepalanya dengan gagang senjata api dan membenturkannya ke tembok dan dinding hingga berdarah. "Kalau tidak salah liat senjata api warna putih," kata dia.

Saat itu, para pembeli tempe sudah ramai di luar rumah, tapi belum ada yang bisa masuk karena pintu masih terkunci.

"Saat itu pembeli tempe sudah ramai diluar," ujarnya.

Ia berserta istri sangat berharap pihak kepolisian dapat mengungkap pelaku kejahatan yang menguras uang simpananya hingga sebesar Rp17 juta.

"Selain rasa sakit di kepala, rasa takut masih menghantui, maka saya senang ada yang datang besuk kesini," ujarnya.

Sementara itu, tetangga korban menjelaskan pada waktu kejadian, mereka mengira pasangan suami istri itu ribut atau cekcok mulut.

"Awalnya kami kira mereka ribut atau berantem," kata Cahyo (51).

Namun, semakin lama keributan dari dalam rumah itu semakin gaduh, sehingga para tetangga datang menghampiri dan mengetuk pintu, untuk mengetahui kejadian sebenarnya. "Kami sempat mengetuk pintu, tapi tidak dibuka," ujarnya.

Baca juga:

Rampok Bersenpi Gasak Harta Pengusaha Tempe di Sidomulyo 

Setelah komplotan perampok berhasil melarikan diri, pintu baru dibuka oleh istri korban, warga berusaha mengejar. Namun takut karena terdengar suara letusan senjata api.

"Mau ngejar tapi dengar suara tembakan kami mundur," katanya.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar