#banjirbandang#bencana

Korban Banjir Semaka Kembali ke Rumah

( kata)
Korban Banjir Semaka Kembali ke Rumah
Kondisi Pekon Sukaraja, Kecamatan Semaka, Tanggamus, pascabanjir bandang.Lmapost.co/Abu Umarali

Kotaagung (Lampost.co) -- Warga korban banjir yang melanda wilayah Semaka, Tanggamus, sudah kembali ke rumahnya dan membersihkan sisa banjir bandang bersama tim sukarelawan. Sementara sejumlah alat berat yang diturunkan kini masih konsentrasi di jalan nasional dan kabupaten menyapu sisa lumpur, Minggu, 12 Januari 2020.

Seperti diketahui bencana banjir bandang disertai longsor ini menerjang 6 pekon di Kecamatan Semaka, Tanggamus. Sejumlah rumah penduduk dikabarkan mengalami kerusakan baik ringan, sedang maupun berat.

Di Pekon Sukaraja 169 rumah mengalami rusak ringan, Pekon Kacapura 21 rusak ringan. Pekon Padawaras 42 rumah rusak ringan dan 22 rusak sedang. Pekon Sedayu 27 rumah rusak ringan, 3 rusak sedang, dan 2 rusak berat. Pekon Bangunrejo 109 rusak ringan dan 58 rusak sedang. Pekon Way Kerap 31 rusak ringan, 104 rusak sedang, dan 16 rumah rusak berat.

Kabid Darurat BPBD Tanggamus Edi Nugroho mengatakan di hari ke-3 pascabencana, korban banjir kini sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Warga dibantu tim sukarelawan dari TNI/Polri dan organisasi masyarakat melakukan pembersihan lingkungan dari material yang dibawa banjir bandang.

Dapur umum Pemkab Tanggamus juga masih memasak dan membagikan 3 ribu makanan bungkus setiap harinya. "Jadi setiap waktu makan dibuat seribu nasi bungkus bagi warga korban banjir dan sukarelawan," kata dia.

Sedangkan alat berat yang diturunkan baik dari Pemprov maupun Pemkab masih beroperasi membersihkan material batu, pasir, kayu dan lumpur di akses jalan utama dan kabupaten. Tanggap darurat ini akan terus dilaksanakan sampai kondisi masyarakat dan jalan betul-betul kembali normal seperti sedia kala.

Pemkab Tanggamus juga akan berkoordinasi dengan Dinas PU provinsi dan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) guna penanganan masalah akses jalan lintas pantai barat (jalinpanbar). Dia mencontohkan seperti soal besaran diameter gorong-gorong di sepanjang jalinpanbar.

"Ada beberapa gorong-gorong di bawah jalinpanbar yang sebaiknya dibuat berdiameter 2 meter tetapi hanya 1 meter. Sehingga ketika ada material kayu melintang dapat mengganggu saluran air," ujarnya.

Selain itu, bersinergi dengan Dinas PU provinsi guna perbaikan sektor yang menjadi kewenangannya. Seperti pengairan, permukiman, dan jalan. Koordinasi pascabencana ini akan dilaksanakan setelah tanggap darurat dinyatakan selesai.

Untuk penanganan tanggul yang jebol di Way Kerap sedangkan dilaksanakan Balai BWS Mesuji Sekampung guna dilakukan penutupan.

 

Sementara Kepala KPHL Kotaagung Utara Zulhaidir mengatakan berdasarkan pengamatan pihaknya ada beberapa faktor pemicu banjir bandang di Semaka. Pemicu tersebut, di antaranya tingkat kelerengan daerah hulu yang cukup curam dengan kemiringan sampai 40 derajat, struktur tanah labil ditambah curah hujan yang tinggi di kawasan tersebut.

Dia mengakui jika tegakan pohon di Register 31 Semaka sebagian lahan terbilang jarang. Zulhaidir tidak dapat menyatakan jika ini menjadi salah satu pemicu bencana karena perlu analisis mendalam. Namun, terdapat sebagian lahan hutan lindung ini yang ditanami kopi oleh warga.

Wilayah Semaka, katanya, memiliki banyak sungai kecil atau disebut boloran oleh warga setempat. Boloran ini ada yang menyatu ke Way Kerap dan Way Pesanggrahan. Ketika kemarau boloran ini akan kering, tetapi ketika hujan akan dipenuhi air.

"Boloran inilah yang kemarin meluap ke atas badan jalan sembari membawa material dari atas," kata dia.

Tetapi tetap dibutuhkan analisis lebih lanjut untuk mencari pemicu utamanya. Kalau memang karena dipicu dari dalam kawasan, akan dilakukan reboisasi. Sedangkan jika di luar kawasan bisa dilakukan penghijauan.

Muharram Candra Lugina



Berita Terkait



Komentar