#kopibubuk#kopilampung#ekbis#kedaikopi

Kopi Bubuk Sinar Baru Bertransformasi Jadi Kedai Kopi

( kata)
Kopi Bubuk Sinar Baru Bertransformasi Jadi Kedai Kopi
Pembukaan kedai kopi 1911 di Jalan Ikan Kakap, Telukbetung, Bandar Lampung, Selasa (18/9/2018). (Lampost.co/Effran Kurniawan)

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Kopi bubuk sinar baru cap bola dunia melakukan perluasan usaha menjadi kedai kopi 1911 di Jalan Ikan Kakap, Telukbetung, Bandar Lampung, Selasa (18/9/2018). Pembukaan itu sebagai inovasi merk kopi yang telah tekenal ratusan tahun di Lampung dalam memenuhi permintaan masyarakat Bumi Ruwa Jurai yang semakin menggemari minuman berasa pahit tersebut.

Pemilik Kedai Kopi 1911, Lucas Sukianto menjelaskan setelah secara turun temurun menggeluti usaha kopi bubuk, kini ingin ada ekspansi yang selain menjual kopi bubuk sinar baru cap bola dunia, turut menawarkan kopi seduh guna memfasilitasi masyarakat yang ingin bercengkrama bersama keluarga, teman, ataupun rekan kerja.

"Dari tahun 1911 sudah buka usaha kopi bubuk dan saya adalah generasi keempatnya. Tapi, banyak tamu yang saat beli kopi bubuk ingin bisa sambil minum kopi dulu. Makanya kami buka kedai kopi dengan konsep modern klasik, tetapi dilengkapi dengan makanan tradisional. Kopi kami yang legendaris digabungkan dengan jajanan ringan," kata Lucas saat pembukaan kedai kopi.

Dia melanjutkan, di kedai kopi pertamanya itu memiliki kapasitas 50 orang tamu dan pelanggannya tidak hanya ditawarkan kopi saja, tetapi ada pula beragan makanan ringan, seperti kue bugis, risoles, onde-onde, dadar gulung, goreng-gorengan, nasi uduk dan bubur ayam dengan harga mulai dari Rp10-30 ribu.

"Untuk kopi sementara ini ada kopi hitam seharga Rp7 ribu dan Rp12 ribu untuk kopi susu. Sementara, kalau kopi bubuk harga sachetnya hanya Rp600 untuk satu gelas, Rp70 ribu kopi bubuk per kaleng, dan kopi biji lebih mahal, karena kopi biji utuh seharga Rp75 ribu," ujarnya.

Menurutnya, produk kopinya memiliki lima macam kemasan, yaitu tradisional, kaleng, sachet dan biji. Penjualan kopi biji saat ini turut menarik perhatian konsumen. Sebab, banyak masyarakat sudah punya mesin penggiling kopi sendiri, karena khawatir kopi bubuknya tercampur dengan bahan lain, sehingga mengubah rasa kopinya.

"Produk kami juga menjadi incaran bagi wisatawan atau masyarakat luar kota sebagai oleh-oleh. Kalau kedai ini pasarnya untuk semua segmen, tidak hanya anak muda saja. Memang dilihat konsepnya menengah keatas, tetapi harganya kan menengah kebawah," urainya.

Dia melanjutkan, saat ini dirinya ingin berfokus pada pengembangan kedai kopinya. Namun, kedepannya dia akan memiliki rencana untuk membuka cabang kedai tersebut. "Setelah ratusan tahun ini kedai kopi pertama, maka kami ingin fokus dulu memberikan kualitas dan pelayanan terbaik agar banyak peminat, menjaga kualitas, disukai masyarakat, dan terus memberi inovasi lainnya," tuturnya.

Effran Kurniawan



Berita Terkait



Komentar