#Opini#LampungPost#FestivalWayKambas

Konservasi Gajah di Festival Way Kambas

( kata)
Konservasi Gajah di Festival Way Kambas
Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo dan Bupati Lampung Timur Chusnusia Chalim saat membuka Festival Way Kambas di TNWK, Lampung Timur, Sabtu (11/11/2017). (Foto: Humas Pemprov Lampung)

PESTA rakyat tahunan masyarakat Lampung Timur, yakni Festival Way Kambas, kembali digelar tahun ini. Sesuai namanya, keseluruhan acara festival diselenggarakan di area Pusat Latihan Gajah Taman Nasional Way Kambas (TNWK) pada 11—13 November 2017 lalu.

Tema yang diusung adalah Spirit of nature. Melalui tema tersebut, penyelenggara bermaksud tidak hanya mempromosikan pariwisata dan seni budaya daerah, tetapi juga mengampanyekan pelestarian gajah sumatera.

Pawai budaya, pameran, mancakrida, tari bedana massal, Way Kambas Idol, dan masih banyak lagi dapat dijumpai dalam festival. Daya tarik utama festival tentu saja sang ikon taman nasional, gajah sumatera, yang lincah melakukan atraksi dan berinteraksi dengan ribuan pengunjung yang hadir.

Hadirnya banyak pengunjung ke salah satu habitat utama gajah sumatera seharusnya bisa dijadikan momentum untuk menggalang dukungan konservasi bagi sang ikon. Dengan banyaknya kunjungan ke Way Kambas, pihak TNWK dapat memaksimalkan upaya penyadartahuan tentang konservasi spesies dan habitat.

Semakin banyak masyarakat yang paham tentang pentingnya konservasi, makin tinggi nantinya perhatian para pembuat kebijakan dalam hal tersebut. Sayangnya, hingga akhir festival tidak tampak nilai-nilai konservasi dijunjung dalam berbagai elemen acara. Upaya penyadartahuan masyarakat juga tidak dilaksanakan dengan serius.

 

Padang Sampah

Urusan sampah menjadi problem akut festival. Berbagai jenis sampah berserakan di seluruh penjuru lokasi festival setelah rangkaian acara usai. Ironis sekali bahwa taman nasional yang berharap menyebar nilai-nilai konservasi kepada masyarakat melalui sebuah festival berakhir menjadi padang sampah makanan para pengunjung.

Pengunjung begitu saja meninggalkan sedotan, pembungkus makanan, kantong plastik, dan lain-lain secara sembarangan sehingga menjadikan arena Way Kambas sebagai padang sampah.

Padahal, para pejabat negara dan bintang tamu terus mengelu-elukan alam Way Kambas dalam setiap pidato dan sambutan mereka. Saat memberikan sambutan, Ketua MPR Zulkifli Hasan bahkan sempat mengatakan masalah sampah adalah masalah bersama pemerintah dan masyarakat. Bagaimana kita bisa melestarikan para gajah jika menjaga kebersihan habitat mereka saja tidak bisa?

 

Minim Pesan Konservasi

Selain itu, dari sekian banyak acara dan pameran yang tersedia, pesan tentang konservasi alam masih terbatas. Penjelasan tentang TNWK sebagai habitat alami gajah hanya mampir sepintas di pidato-pidato resmi para pejabat; porsi pidato lebih banyak diberikan kepada potensi pariwisata di pusat latihan gajah.

Kondisi pameran pun setali tiga uang. Dari puluhan stan pameran yang ada di festival, hanya tiga yang aktif memberikan informasi mengenai TNWK dan konservasi, itu pun termasuk stan TNWK sendiri. Sisanya adalah dagangan makanan penduduk lokal. TNWK menjadi tampak tidak dominan dalam penyelenggaraan acara.

Apabila mengacu kepada tujuan festival diadakan di Way Kambas, mengapa sangat sedikit informasi yang tersedia mengenai gajah dan TNWK? Bukankah untuk meningkatkan potensi pariwisata suatu daerah, informasi tentang area perlu menjadi pengetahuan umum masyarakat?

Atraksi gajah juga diselenggarakan tanpa edukasi yang memadai kepada pengunjung. Gajah hanya dipandang sebagai pelaku atraksi yang bertugas mengisi acara. Tidak mengejutkan jika pengunjung kemudian mendapat kesan bahwa konservasi gajah sumatera hanya berarti sirkus gajah.

Ini sangat disesalkan dengan kehadiran TNWK sebagai lembaga konservasi dalam acara. Sebaik-baik gajah di penangkaran, tempat terbaiknya adalah di alam. Membuat gajah melakukan atraksi dengan diiringi musik yang sangat keras dalam waktu lama berpotensi membuat gajah stres; kondisi semacam itu bukan kondisi habitat mereka. Belum lagi interaksi para pengunjung dengan para gajah tanpa memperhatikan batas yang diperlukan oleh gajah. Apakah kampanye pelestarian dianggap berhasil jika anak-anak yang datang mengenal gajah hanya sebagai pelaku atraksi?

Mengingat jumlah individu gajah sumatera saat ini, dukungan masyarakat terhadap perlindungan mereka sangat mendesak. Dengan jumlah sekitar 1.700 ekor di seluruh Sumatera (KLHK, 2014), populasi gajah turun drastis dari 2.400 ekor pada 2007. Di TNWK sendiri, populasi gajah liar diduga sekitar 247 ekor pada 2010 dengan sekitar 22 kasus kematian gajah tercatat sejak saat itu (data WCS-IP).

Perburuan gajah, perusakan habitat melalui perambahan dan penebangan hutan, dan konflik antara gajah dengan masyarakat sekitar masih mengancam satwa karismatik ini. Padahal, gajah memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem Sumatera; mereka membentuk padang rumput, kubangan, dan komposisi pohon hutan yang berperan sebagai habitat spesies lain.

Festival Way Kambas dengan segala daya tariknya terhadap pengunjung memiliki peran vital dalam menggalang dukungan publik terhadap konservasi di TNWK. Dengan memopulerkan gajah sumatera melalui atraksi, tentu TNWK mengharapkan daya tarik lebih dalam penggalangan dukungan. Jika atraksi yang kerap dilakukan kemudian tidak menyadarkan masyarakat tentang urgensi konservasi gajah, untuk apa sesungguhnya atraksi tersebut dilakukan?

Pada kesempatan lain, alangkah baiknya jika pihak TNWK dan Pemerintah Provinsi Lampung lebih menyeriusi kampanye pelestarian satwa. Acara khusus terkait gajah dan satwa TNWK semisal panggung boneka, pemutaran film, atau pertunjukan teater dapat diselenggarakan.

Sebagai contoh adalah panggung teater gajah yang diselenggarakan Bali Safari & Marine Park. Dalam panggung tersebut, pengunjung disuguhi cerita teatrikal tentang gajah-gajah sumatera yang melawan para pemburu dan perambah hutan. Jika Way Kambas dapat melatih gajah untuk tetap nyaman di antara manusia, tentu melakukan panggung teater tidak sulit.

Selain membuat festival lebih menarik, panggung teater dapat menarik lebih banyak jenis turis dan sarat edukasi. Panitia juga dapat menitipkan pesan-pesan konservasi kepada pembawa acara dan artis untuk disampaikan kepada pengunjung.

Pesan sederhana yang disampaikan para artis secara informal akan lebih efektif disimak masyarakat dibanding pidato formal. Padang sampah juga dapat dicegah melalui ajakan menjaga kebersihan dalam acara sebagai tambahan upaya setelah menambah jumlah tempat sampah.

Untuk membuat kampanye lebih hidup, pengunjung juga dapat diajak aktif mendukung para gajah melalui penandatanganan spanduk dukungan, foto dan tagar dukungan di media sosial, atau donasi.

Singkat kata, ada banyak cara kreatif yang efektif mengampanyekan pelestarian gajah dalam Festival Way Kambas.

Jika nilai-nilai konservasi alam tidak diseriusi dalam acara, menyelamatkan para gajah dari kepunahan hanya jargon. Para ikon festival hanya akan menjadi satwa legendaris yang dikenal generasi selanjutnya melalui cerita para pendahulu mereka.

Sabhrina Gita Aninta, Pengelola SDM Tambora, Jaringan Konservasionis Muda Indonesia



Berita Terkait



Komentar