#polusiudara#kebakaran#kabutasap#beritanasional#karhutla

Kondisi Udara di Sumatera Lebih Baik Dibanding Kalimantan

( kata)
Kondisi Udara di Sumatera Lebih Baik Dibanding Kalimantan
Foto: Lampost.co/Luchito Sangsoko

JAKARTA (Lampost.co) -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengungkapkan bahwa hingga saat ini kondisi udara di wilayah Sumatera sudah lebih baik jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya, terlebih jika dibandingkan dengan di Kalimantan.

Adapun kondisi udara ini diklaim merupakan hasil dari hujan buatan yang menggunakan teknologi modifikasi cuaca (TMC) yang dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), BNPB dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Saat ini kalau kita lihat di beberapa tempat yang kita lakukan dengan hujan buatan atau menggunakan TMC hasil kerja sama BPPT, BNPB, dan BMKG itu cukup memberikan hasil, walaupun sebagian juga hujan secara normal," ungkap Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapan BNPB Bernadus Wisnu Wijaya pada acara Forum Diskusi Media Group di Jakarta, Kamis, 26 September 2019.

Menurutnya, kondisi di Riau saat ini telah menunjukan udara yang sudah membaik, kemudian di Jambi menunjukkan indikator udara yang sedang, namun lebih buruk jika dibandingkan dengan di Riau. "Untuk Sumatera Selatan itu indikatornya kuning, artinya lebih baik. Namun, indikator ini bukan di seluruh Provinsi tetapi hanya di ambil di beberapa titik ya," ujarnya.

Sementara untuk di Pulau Kalimantan, lanjut Wisnu, kondisi udaranya agak lebih buruk jika dibandingkan di Pulau Sumatera, terutama di wilayah Kalimantan Tengah yang kondisi udaranya berada di tingkat berbahaya. "Kalimantan Barat itu sedang, kemudian Kalimantan Selatan itu baik. Kejadian kebakaran ini tidak hanya di 6 wilayah itu saja ternyata ada di beberapa tempat di Jawa juga terbakar, beberapa gunung seperti gunung Slamet dan gunung-gunung lainnya," terang Wisnu.

Dia pun menjelaskan bahwa telah mengupayakan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi dengan mengerahkan secara besar-besaran sumber daya yang dimiliki.

"Kami mengupayakan semua yang bisa saat ini besar-besaran untuk melakukan pemadaman, mulai dari pesawat helikopter, untuk TMC juga kita kerahkan 4 pesawat, termasuk satu pesawat Hercules yang memiliki kapasitas besar untuk menebar garam, personil hampir mencapai 30 ribu dan juga peran serta masyarakat," tutur dia.

Luchito Sangsoko



Berita Terkait



Komentar