#tajuklampungpost#kja#kesejahteraan

KJA untuk Kesejahteraan

( kata)
KJA untuk Kesejahteraan
dok Lampost.co

KARAMBA merupakan tempat pemeliharaan dan budi daya ikan tradisional yang mirip tambak ikan. Di beberapa waduk dan danau, para pembudi daya ikan memanfaatkan air sebagai lahan budi daya. Mereka menggunakan sistem karamba atau biasa dikenal dengan karamba jaring apung (KJA).

Sistem keramba memiliki beberapa manfaat. Keberadaan ikan lebih aman, sehingga memudahkan pemeliharaan. Selain itu, dengan ukuran karamba yang terbatas, ikan dapat dipanen dengan mudah. Nilai ekonomisnya pun bisa langsung dihitung petani ikan.

Sistem budi daya karamba jaring apung (KJA) di danau/bendungan suatu saat akan mencapai titik jenuh, yaitu pada saat residu pakan terdorong arus bawah danau dan naik ke permukaan. Akibatnya ribuan ikan mati mendadak. Hal itulah yang terjadi di Waduk Cirata, Saguling, Jatiluhur, Kedungombo, Gajahmungkur, Wadaslintang, Danau Toba, dan terakhir pekan lalu 63 ton ikan dalam KJA di Danau Maninjau mati.

Maka, harus ada batasan persentase perairan danau yang dapat dijadikan KJA dan selebihnya untuk kepentingan pariwisata. Di dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) dijelaskan bahwa penggunaan sumber daya alam harus selaras, serasi, dan seimbang dengan fungsi lingkungan hidup. Sebagai konsekuensinya, kebijakan, rencana atau program pembangunan harus dijiwai kewajiban melakukan pelestarian lingkungan hidup dan mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan. Aktivitas budi daya ikan sistem KJA di waduk tetap terus berkembang untuk meningkatkan produksi.

Sejauh ini, Pemkab Lambar telah memetakan potensi perikanan di Danau Ranau. Danau Ranau merupakan salah satu sentra budi daya ikan nila di wilayah tersebut. Danau vulkanik terbesar kedua setelah Danau Toba ini masih memiliki kualitas air yang baik dan daya dukung KJA untuk budi daya yang masih sangat luas, sehingga potensi budi daya masih dapat dikembangkan. Produksi ikan air tawar Lampung Barat 2018 mencapai 8.527,04 ton. Jumlah ini meningkat sebesar 3.383 ton dibanding dengan produksi 2017. Jumlah produksi itu secara otomatis belum memenuhi angka kebutuhan ikan bagi masyarakat Lambar.

Pada 2018, jumlah kebutuhan ikan Lambar mencapai 9.601 ton/tahun dengan tingkat konsumsi mencapai 29,70 kg/kapita. Untuk memenuhi kebutuhan itu, sebagian ikan didatangkan dari luar, khususnya untuk jenis ikan laut. Kemudian, beberapa jenis ikan air tawar lainnya seperti ikan mas dan lele.

Berdasar pada data rekapitulasi, adapun produksi ikan air tawar Lambar 2018 secara perinci adalah ikan mas 1.328,18 ton. Kemudian, ikan nila 7.099,81 ton, ikan lele 6,45 ton, ikan gurami 5,70 ton, ikan tawes 5,85 ton, ikan nilem 25,25 ton, ikan patin 45,20 ton, dan ikan lainnya 10,60 ton.

Kemudian, pada 2019, produksi usaha perikanan Lambar dari semua jenis ditargetkan sebesar 6.335 ton lebih. Target produksi ikan itu diharapkan tercapai dari produksi penangkapan ikan di perairan umum, hasil dari budi daya perairan umum (karamba), budi daya di kolam masyarakat dan budi daya pada mina padi.

Maka, pemanfaatan KJA ini mesti dimaksimalkan. KJA tidak hanya berfungsi pada perikanan, tetapi juga untuk pariwisata. Kawasan wisata karamba itu adalah kawasan yang dijadikan zonasi, dan di sana karamba-karamba diterima sebagai aset daerah. Sebab, dari sektor wisata karamba yang lebih pada sajian kuliner berbagai jenis ikan, justru berhasil mendongkrak pertumbuhan perekonomian daerah.

 

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar