#kivlanzen#wiranto#pamswakarsa

Kivlan Zen Menawarkan Perdamaian kepada Wiranto

( kata)
Kivlan Zen Menawarkan Perdamaian kepada Wiranto
Kuasa hukum Kivlan Zen, Tonin Tachta Singarimbun, di Pengadilan Negeri Jakarta Timur.Medcom.id/Ilham Pratama


Jakarta (Lampost.co): Kivlan Zen menawarkan perdamaian kepada Menko Polhukam Wiranto. Tawaran mantan Kepala Staf Komando Strategis Angkatan Darat Mayjen TNI itu dilayangkan lawat pengacaranya, Tonin Tachta.

"Mediasi, damai misalnya," kata Tonin usai sidang perdata perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis, 15 Agustus 2019.

Kivlan menggugat Wiranto terkait pembentukan Pasukan Pengamanan Masyarakat (PAM) Swakarsa 1998. Dia menuding pembentukan Pam Swakarsa penuh intrik penyelewengan dana.

"Uang yang dikasih (B.J. Habibie) sebagai pemerintah, tidak disalurkan sesuai peruntuka. Itu korupsi bukan? Kalau bukan, ya sudah mulai besok orang akan begitu," kata Tonin.

Baca: Hari Ini, Polisi Akan Konfrontasikan Kivlan Zen dan Habil Marati

Tonin mengatakan, kalau tawaran damai dianggap sepi dan persidangan sampai pada pembacaan gugatan, dirinya berencana meminta Habibie bersaksi. Surat permohonannya sedang dibuat.

"(Yang jadi saksi itu) siapa yang mendengar, siapa yang mengalirkan uang dan melihat bahwa uang itu tidak pernah sampai kepada Pak Kivlan," jelas Tonin.

Kivlan meminta Wiranto mengganti uang pembentukan PAM Swakarsa senilai Rp1 triliun. Hitung-hitungannya, gugatan materiil senilai Rp16 miliar, terdiri dari Rp8 miliar karena Kivlan menanggung biaya Pam Swakarsa dengan menjual rumah, mobil, dan mencari pinjaman, serta Rp8 miliar lain sebagai penyewaan rumah.

Gugatan imateriel terdiri dari tuntutan ganti rugi senilai Rp100 miliar atas rasa menanggung malu karena terlilit hutang. Sebanyak Rp100 miliar diajukan karena tidak mendapatkan jabatan yang dijanjikan. Ganti rugi mempertaruhkan nyawa demi Pam Swakarsa senilai Rp500 miliar.

Kivlan pun memerkarakan soal dirinya yang dipenjara sejak 30 Mei 2019 dengan nilai gugatan Rp100 miliar. Kivlan juga menggugat biaya senilai Rp184 miliar karena sakit dan tekanan batin sejak November 1998 sampai sekarang.

PAM Swakarsa menjadi sebutan kelompok sipil bersenjata tajam bentukan TNI untuk membendung aksi mahasiswa di 1998. Kelompok ini disiapkan mendukung Sidang Istimewa MPR 1998.

PAM Swakarsa kerap terlibat bentrokan dengan pengunjuk rasa yang menentang sidang istimewa MPR. Wiranto yang kala itu menjadi panglima ABRI ngotot mempertahankan Pam Swakarsa di tengah kecaman tokoh nasional.

Medcom







Berita Terkait



Komentar