#tuberkulosis#penyakit

Kisah Suwandi Berjuang Melawan Tuberkulosis

( kata)
<i>Kisah Suwandi Berjuang Melawan Tuberkulosis</i>
Penderita TB Paru warga Desa Sinarpasemah, Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan, usai menjalani uji laboratorium di Puskesmas Candipuro. Lampost.co / Perdhana

KALIANDA (Lampost.co) -- Suara sirine mobil ambulans, sudah terdengar sayup-sayup dari kejauhan, semakin mendekat suara sirena yang khas makin terdengar jelas. 

Siang itu, di tengah terik matahari musim kemarau, suasana Puskesmas Candipuro, Lampung Selatan, yang sebelumnya senyap, terlihat mulai ramai suara pasien yang sedang antri berobat. 

Mereka seperti tidak sabar, menanti apa gerangan yang datang di dalam mobil ambulan mengangkut pasien yang terlihat sangat kurus kelelahan. 

Pasien yang di bawa ke Puskesmas Candipuro, merupakan penderita penyakit Tubercolosis (TB) paru, warga Desa Sinarpasemah, Kecamatan setempat. 

Kedatangan Suwandi (45) penderita TB paru, untuk memastikan penyakit yang dideritanya, karena sebelumnya pria yang sudah dikarunia dua anak ini baru dinyatakan suspect TB paru. 

Lamanya kepastian mengenai penyakit yang dideritanya disebabkan kesulitan menjalani proses pemeriksaan kesehatan akibat melemahnya kondisi tubuhnya. 


"Beberapa hari yang lalu bapak diminta buang dahak untuk tes laboratorium, tapi tidak bisa sampai hari ini," kata anak korban, sebut saja namanya Ani (21), Selasa, 17 September 2019. 

Penderita yang kesehariannya hanya bekerja serabutan, terpaksa dibawa ke klinik kesehatan di Kecamatan setempat, untuk di ronsen, karena dahaknya tidak bisa keluar. 


"Tadi dijemput pak Nardi orang Puskesmas Candipuro, dibawa ke klinik, lalu dibawa kesini untuk menunggu hasil," ujarnya. 


Sejak enam bulan terakhir atau sejak kondisinya menurun akibat penyakit yang dialaminya, setiap malam Suwandi kerap mengeluh sakit di bagian perut. 


"Ngeluh sakit perut hampir setiap malam," kata dia. 

Belakangan ini, ia sulit diajak bicara, karena seringkali pembicaraan ngawur, kemungkinan efek dari kondisinya yang sudah sangat memprihatinkan. 


"Kalau ngomong kadang tidak nyambung," ujarnya. 


Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kesehatan Candipuro, Sunardi menjelaskan jika Suwandi selama ini sudah dalam pengawasan pihaknya. 


"Kami sudah empat kali ke rumah Suwandi, selama ini dalam pengawasan bidan desa," ujarnya. 

Bahkan, Suwandi sempat dirawat inap ke klinik medis yang ada di daerah sekitar dengan biaya ditangggung pihak Puskesmas. 
"Pernah di rawat secara intensif di klinik dokter swasta, biaya kami yang tanggung," kata dia. 

Selama ini, Suwandi tidak bisa langsung di rujuk ke Rumah Sakit disebabkan kartu BPJS yang di milikinya mulai aktif pekan depan. 
"Hasil laboratorium, korban positif penderita TB paru dan ada komplikasi," ujarnya. 


Keluarga Suwandi tidak punya biaya hidup, selama menjalani pengobatan rawat inap, sehingga permasalahannya bukan mengenai kesehatan saja. 


"Persoalannya bukan masalah kesehatan saja," katanya. 

Terpisah, Kepala Desa Sinarpasemah, Puji Purwantoro Junaidi mengaku selalu menyampaikan ke keluarga korban untuk berobat dan dirawat. 


"Kami bersama pak Nardi sudah tidak kurang-kurang meminta korban agar dirawat," ujarnya. 

Perdhana Wibysono

Berita Terkait

Komentar