#Pertanian#Perkebunan#Kopi#Lampura

Kisah Pahit Subagio Mengangkat Pamor Kopi Lampura

( kata)
Kisah Pahit Subagio Mengangkat Pamor Kopi Lampura
Ketua Kelompok Tani Mulyasari, Desa Sidokayo, Kecamatan Abungtinggi, Subagio, menunjukkan produk kopi bubuk petik merah yang diproduksinya, dikediamannya, Senin, 2 Desember 2019. (Foto: Lampost.co/Yudhi)

KOTABUMI (Lampost.co) -– Pandangan lelaki kurus itu menerawang jauh. Ia pun mulai mengenang kisah pahit kala mengangkat pamor kopi asal Kabupaten Lampung Utara ke luar daerah bersama rekan keran sejawat petani kopi lainnya.

Dalam perjalan pulang melintasi Selat Sunda, di atas kapal, pada 2018 silam, ia sempat frustasi dan terbesit keinginan membuang 22 kg sisa kopi yang tidak laku terjual di pameran di Jakarta. Namun, niatnya itu ia urungkan. 

"Saya sempat frustasi dan berniat membuang 22 kg produk kopi petik merah yang tidak laku terjual ke Selat Sunda," Subagio mulai menceritakan pengalaman getirnya itu, Senin, 22 Desember 2019.  

Ketua Kelompok Tani Mulyasari, Desa Sidokayo, Kecamatan Abung Tinggi, itu mengenang upaya kelompoknya kala mengikuti pameran kopi bertaraf nasional. Even itu berlangsung di gedung Indonesia Convention Boulevard (ICE), BSD City Tangerang, pada tahun 2018 lalu.

Ketika itu ia dan rekan rekan poktan Mulyasari selama seminggu mengemban misi mengenalkan produk kopi Lampung Utara ke luar daerah. Hanya saja, pihak dinas terkait tidak menyiapkan anggaran untuk mengfasilitasi selama pameran.

Subagio berangan produk poktannya dikenal luas. Ia memberanikan diri ikut pameran dengan dana pribadi Rp1,7 juta serta 25kg produk kopi dari kelompoknya. Sampai usai pameran, kopi yang dia jual Rp30ribu/kg hanya laku 3kg dan uang sakunya ludes untuk biaya hidup selama pameran.

"Untuk pulang saya terpaksa meminta jemput karena sudah tidak ada ongkos dan total uang penjualan kopi sebesar Rp90 ribu saat itu, hanya tersisa Rp45 ribu dan uang itulah yang dibawa pulang sampai rumah," ujarnya lirih.

Saat itu ia mewajibkan 25 anggota poktan Mulyasari, menyetor 5 kg kopi dengan proses natural atau petik merah langsung jemur. Terkumpulah 125 kg/tahun. Saat ditawarkan ke pedagang Rp25 ribu/kg, produknya tidak laku dan terpaksa kopi di jual asalan Rp22 ribu/kg.

"Saya tidak menyerah. Pada 2015, produksi kopi petik merah ditingkatkan, per anggota 10 kg dengan total kopi terkumpul 250 kg, ditawarkan ke pedagang Rp30 ribu/kg dan dibeli kafe Rp28 ribu/kg dengan total pembelian 170 kg dan sisanya 80 kg dijual kopi asalan yang harga saat itu turun menjadi Rp19 ribu/kg," kata dia peraih juara 2 lomba cerdas cermat pada Festival Kopi Lampung 2019 itu.

Di 2016 ia tingkatkan produksi peranggota 20 kg terkumpul 500 kg, terjual 324 kg seharga Rp30 ribu/kg sedangkan 176 kg sisanya di jual asalan Rp18.300,-/kg. Pada 2017 produksi kopi petik merah tidak berubah 500 kg, hanya terjual 211 kg seharga Rp30 ribu/kg dan sisanya, 289 kg di jual kopi asalan yang harganya mengalami penurunan  menjadi Rp18 rbu/kg.

Di 2018, produktivitas tidak berubah 500 kg, terjual 283 kg dengan harga Rp30 ribu/kg dan 217 kg sisanya di jual kopi asalan yang nilainya anjlok menjadi Rp17.500,-/kg.

"Saya korban penggiat kopi karena tidak difasilitasi Pemkab. Lampura dari awal dalam pemasaran kopi petik merah dan pelatihan yang dilakukan mengenai hal itu terkesan lips service," kata dia.

Pada 2019, ia nekat mengolah kopi petik merah dengan membeli langsung ke petani poktannya  sebanyak 800 kg seharga Rp27 ribu/kg. Kopi tersebut diolah menjadi produk sendiri yakni; green bean dengan kadar air 12 persen s/d 13 persen dengan harga Rp30 ribu/kg dan roasting (biji siap bubuk) seharga Rp80 ribu/kilo.

Kopi Suabgioa akhirnya tembus ke kafe-kafe, bahkan pemesanan sampai ke kafe di Aceh dengan ongkos kirim lebih mahal dari pada harga beli kopi. Sedangkan untuk kopi bubuk merek "EsDe Coffe" dengan berat 250 gram dia jual Rp25 ribu/bungkus.

Sejak diolah menjadi produk sendiri, kopinya saya habis terjual dan rata-rata diambil kafe, bahkan contoh produknya telah diminta pihak eksportir untuk dikirim ke Jepang dan Brunei Darussalam.

Untuk memenuhi permintaan pasar, ia menargetkan dari anggota 5 ton kopi green bean petik merah di 2020. “Selain itu, saya telah di undang menjadi anggota assosiasi eksportir dan industri kopi Indonesia (AEKI)."

Abdul Gafur



Berita Terkait



Komentar