#hivaids

Kisah ODHIV 15 Tahun Melawan Tumbang

( kata)
Kisah ODHIV 15 Tahun Melawan Tumbang
Ilustrasi obat ARV/Pixabay


Bandar Lampung (lampost.co) -- Semangat hidup sekuat karang harus dijaga Ade Komariah (44). Wanita tersebut dinyatakan terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV) sejak 15 tahun silam. Dia berjuang melawan tumbang dengan gigih melawan stigma dan aktif membantu sesama.

Ade mengisahkan perkenalannya dengan HIV bermula dari suami yang tertular virus perusak sistem kekebalan tubuh itu pada pertengahan 2007. Dokter memvonis suaminya menjadi orang dengan HIV (ODHIV) akibat penularan lewat jarum suntik. 

Penularan dari sang suami akhirnya merambat ke Ade. Dia dinyatakan sebagai ODHIV di penghujung tahun yang sama. "Sejak 2007, saya dan suami rutin pulang pergi Lampung-Jakarta untuk menjalani pengobatan," kata Ade, Kamis, 1 Desember 2022.

Jakarta menjadi kota harapan yang tidak bisa ditawar. Pasalnya, kala itu belum ada fasilitas maupun obat-obatan yang tersedia di Lampung. Bahkan, tidak ada dokter di Lampung yang menganjurkan keduanya menjalani tes HIV.

"Saat itu rumah sakit di Jakarta dinilai bisa melakukan penanganan HIV lebih baik," katanya.

Dukanya kian mendalam di kala anak bungsu ikut tertular HIV. Sang buah hati terinfeksi sejak usia enam bulan melalui penularan di dalam kandungan. 

"Kondisinya tidak baik, tetapi sakitnya bersamaan dengan suami. Jadi pada 2007 yang sakit gantian, saya, suami, dan anak," katanya. 

Selama setahun menjalani pengobatan berjalan, kondisi suami terus memburuk hingga akhirnya meninggal pada 2008. 

"Suami gejala sakit kepala dan berat badan turun hingga 30 persen. Kalau saya dan anak mengalami diare," lanjutnya. 

Kepergian sang suami itu justru menariknya untuk mengetahui lebih banyak tentang HIV dan jalur penularannya. Untungnya, dia tidak mendapatkan stigma buruk dari masyarakat. Pasalnya, tidak banyak yang tahu keluarganya menyandang status ODHIV. 

Tekanan justru muncul dari keluarga almarhum suami. Namun, Ade menganggap stigma itu sebagai sensitivitas perasaannya dan cenderung gampang tersinggung. "Stigmanya, misal saya dibelikan mesin cuci baru dan piring baru," katanya. 

Hal itu tidak membuatnya pantang menyalahkan siapapun. Ade kini hanya berfokus untuk berjuang demi bisa tetap menghidupi ketiga anaknya sebagai orang tua tunggal. 

"Itu salah satu alasan saya masih bertahan untuk kuat. Selain anak dan keluarga. saya merasa perlu terus mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan HIV," ujarnya. 

Effran Kurniawan








Berita Terkait



Komentar