#Jokowi-Ma'ruf#Kabinet-Jokowi-Ma'ruf

Kinerja 100 Hari Jokowi-Ma'ruf Dinilai Mengecewakan

( kata)
Kinerja 100 Hari Jokowi-Ma'ruf Dinilai Mengecewakan
Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma

Jakarta (Lampost.co) -- Pengamat Politik Ujang Komarudin menyebut kinerja Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin belum tampak jelang 100 hari kerja. Ujang menilai kinerja kedua pemimpin itu mengecewakan.

Ujang melihat Jokowi-Ma'ruf masih sibuk membangun konsolidasi politik. Sementara program kerjanya belum dieksekusi.

"Masih banyak yang belum tercapai. Jokowi-Ma'ruf masih belum melakukan eksekusi kebijakan. Masih melakukan tahap konsolidasi politik," kata Ujang kepada Medcom.id, Jakarta Pusat, Kamis, 9 Februari 2020.

Kinerja Jokowi-Ma'ruf makin buruk setelah kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya muncul. Apalagi, kasus itu diduga melibatkan oknum di Istana Kepresidenan.

"Seratus hari yang masih mengecewakan. Munculnya kasus korupsi Jiwasraya yang diindikasikan melibatkan orang istana," ujar Ujang.

Pengamat Politik dari Universitas Al-Azhar ini juga mengkritisi kenaikan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Iuran BPJS Kesehatan naik 100 persen terhitung Januari 2020. Kenaikan iuran itu berlaku bagi Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) dan peserta bukan pekerja.

"Kenaikan iuran BPJS mencekik rakyat. Belum lagi, bencana banjir di awal tahun. Ini merupakan kado 100 hari Jokowi-Ma'ruf," pungkas dia.

Pekan depan, Kabinet Indonesia Maju yang digawangi Jokowi dan Maruf Amin sudah memasuki 100 hari kerja.Momen 100 hari kerja biasanya digunakan sebagai gejala awal menghitung kinerja pemerintahan berhasil atau gagal.

Meski begitu, Jokowimengatakan tak ada istilah program 100 hari bagi Kabinet Indonesia Maju. Ia berjanji akan langsung tancap gas.

"Dalam lima tahun ke depan arahnya kerja, kerja, kerja," kata Jokowi tak lama setelah dilantik di Istana Negara, Rabu, 23 Oktober 2019.

Abdul Gafur





Komentar