#korut#pangan

Kim Jong-un Akui Situasi Pangan di Korut Genting

( kata)
Kim Jong-un Akui Situasi Pangan di Korut Genting
Kim Jong-un resmi mengatakan negaranya dalam darurat pangan. Foto: AFP


Pyongyang (Lampost.co) -- Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un secara resmi mengakui bahwa negaranya menghadapi kekurangan pangan. Hal ini disampaikan Kim pada pertemuan para pemimpin senior di negara itu.

"Situasi pangan rakyat sekarang semakin tegang," kata Kim Jong-un, dilaporkan BBC, Kamis, 17 Juni 2021.

Ia mengatakan sektor pertanian gagal memenuhi target gandumnya karena topan tahun lalu yang menyebabkan banjir. Ada laporan bahwa harga makanan di Korut terus melonjak.

Korea Utara menutup perbatasan mereka untuk menahan penyebaran covid-19. Akibatnya, perdagangan dengan Tiongkok anjlok.

Padahal, Pyongyang bergantung pada Beijing untuk makanan, pupuk, dan bahan bakar. Tak hanya itu, sanksi internasional juga menjadi salah satu faktor negara ini semakin terpuruk.

Dalam pertemuan tersebut, Kim menuturkan output industri nasional telah tumbuh seperempat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Para pejabat diharapkan untuk membahas hubungan dengan Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan selama acara tersebut tetapi belum ada rincian yang dirilis.

Pada April lalu, Kim menyerukan pejabat negara itu untuk melakukan 'Arduous March' untuk membebaskan rakyat dari kesulitan walaupun hanya sedikit. Arduous March merupakan istilah yang digunakan pejabat Korut merujuk pada perjuangan negara itu selama kelaparan pada 1990-an, ketika jatuhnya Uni Soviet meninggalkan Korea Utara tanpa bantuan.

Jumlah total warga Korea Utara yang mati kelaparan pada saat itu tidak diketahui, tetapi perkiraan berkisar hingga tiga juta.

Sangat tidak biasa bagi Kim Jong-un untuk secara terbuka mengakui kekurangan makanan. Tapi pemimpin Korea Utara yang sudah mengakui bahwa rencana ekonominya gagal.

Dia mencoba menghubungkan krisis ini dengan pandemi global. Media pemerintah melaporkan ia menunjukkan kepada pejabat partai bahwa situasi di seluruh dunia semakin buruk.

Dia juga menggambarkan upaya untuk mengalahkan covid-19 sebagai "perang yang berlarut-larut". Itu menandakan penutupan perbatasan tidak berkurang dalam waktu dekat.

Winarko







Berita Terkait



Komentar