Koronaviruscoronajagung

Kian Terpuruk, Harga Jagung di Lamsel Rp1.550 per Kilogram

( kata)
Kian Terpuruk, Harga Jagung di Lamsel Rp1.550 per Kilogram
Puluhan kendaraan bermuatan jagung mengantre di salahsatu gudang di Jalinpantim Ketapang. Aan Kridalaksono


KALIANDA (Lampost.co) -- Petani jagung di Pesisir Timur Kabupaten Lampung Selatan makin merana di tengah ancaman pandemi corona virus disease (Covid-19). Pasalnya, harga jagung terus merosot saat tiba masa panen raya.

Berdasarkan Informasi yang berhasil dihimpun lampost.co, Jumat, 3 April 2020, harga jagung di sejumlah gudang maupun pabrik jagung yang terletak di sepanjang jalan lintas pantai timur (Jalinpantim) kecamatan Ketapang bervariasi antara Rp2.900 hingga Rp3.050 dengan potongan kadar air mencapai 50 persen. Sehingga, harga bersih yang diterima petani hanya kisaran Rp1.450 - Rp 1.550 per kilogram.

"Saat panen raya harga terus anjlok. Membuat kami (petani) menjerit dan rugi, karena tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan," kata petani Jagung yang sedang panen di Dusun Tamanjaya, Desa Tamansari, kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Jumat, 3 April 2020.

Awal Maret 2020 lalu, harga jagung masih Rp4.300/kg dengan potongan kadar air cuma di bawah 20 persen. Namun saat memasuki masa panen hingga saat ini harga jagung terus terpuruk.

"Jika melihat modal yang dikeluarkan sudah besar dan harga jatuh saat panen membuat kami enggan tanam jagung lagi," ujarnya lirih.

Hal senada diungkapkan Siswanto, petani jagung di Desa Kemukus kecamatan Ketapang. Ia mengaku, sempat menahan panen jagung hampir dua minggu berharap harga akan membaik.

"Bukannya naik harga malah turun. Walau dengan berat hati, terpaksa kami jual dengan harga murah. Karena kami tidak bisa menunda panen terlalu lama, karena jagung akan rusak," katanya.

Ia berharap pemerintah turun tangan mengatasi harga jagung yang terus merosot di saat panen. Sebab petani selalu menjadi tumpuan penderitaan para kapitalis saat tiba masa panen. “Kapan petani mau hidup senang kalau setiap panen harga jagung anjlok," tandas Sis.

Winarko







Berita Terkait



Komentar