#korupsi#kpk

Ketua KONI Lampung Dicecar 22 Pertanyaan soal Prosedur dan Aturan Pengelolaan Dana

( kata)
Ketua KONI Lampung Dicecar 22 Pertanyaan soal Prosedur dan Aturan Pengelolaan Dana
Ketua KONI Lampung Yusuf Sulfarano Barusman, usai diperiksa penyidik kejati Lampung di kantor kejati Lampung, Bandar Lampung, Senin, 6 Juni 2022. (Lampost.co/Asrul Septian Malik)


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Kejaksaan Tinggi (kejati) Lampung terus memeriksa saksi perkara korupsi anggaran KONI Lampung Tahun Anggaran 2022 yang mencapai Rp29 miliar. Terbaru, Ketua KONI Lampung Yusuf Sulfarano Barusman, diperiksa penyidik kejati Lampung.


Menurut Yusuf, total ada 22 pertanyaan yang diajukan oleh penyidik terhadap dirinya. Yusuf diperiksa sekitar enam jam. Pertanyaan yang diajukan berkaitan tugas dan tanggung jawabnya sebagai Ketua KONI Lampung.

"Fokus kami waktu itu 10 besar PON, dan alhamdulillah tercapai dan membenahi tata kelola dalam pembuatan prosedur operasional standar (Standard Operating Procedure atau SOP) dan aturan terkait pengelolaan dana. Pemeriksaan lebih banyak ke kebijakan," katanya saat keluar dari Gedung Pidsus Kejati Lampung, Senin, 6 Juni 2022.

Yusuf tiba di kantor kejati Lampung pukul 09.00 WIB dan sempat diperiksa hingga siang pukul 12.00 WIB. Selanjutnya, pemeriksaan kembali dilanjutkan dari pukul 13.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

"Saya sebagai warga negara yang baik harus membantu aparat hukum terkait perkara KONI ini," ujar Yusuf.

Baca juga: Hasil Pemeriksaan Saksi Kasus KONI bakal Dicocokkan dengan BPKP Lampung

Diberitakan sebelumnya, Kasipenkum Kejati Lampung I Made Agus Putra, mengatakan, hasil pemeriksaan para saksi dari pengurus KONI, cabang olahraga (Cabor) hingga pihak ketiga, akan diekpos bersama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) perwakilan Lampung. Hal itu untuk mencocokkan hasil pemeriksaan, perhitungan kerugian negara secara internal, dan proses penghitungan kerugian negara oleh BPKP perwakilan Lampung.

"Perhitungan kerugian negara masih on process di BPKP, nanti kami juga ekspos bersama," ujar Made.

Menurutnya, pemeriksaan para saksi seputar pencarian fakta hukum. Sebab dalam proses penyelidikan, ada beberapa fakta yang harus didalami pada kegiatan KONI Lampung. Made menyatakan program kerja KONI dan pengajuan dana hibah tidak disusun berdasarkan usulan kebutuhan KONI dan cabang olahraga. Akibatnya, ada dugaan penyimpangan penggunaan dana hibah KONI.

Hingga kini, lebih dari 80 saksi telah diperiksa. Teranyar, tujuh saksi diperiksa pada 24 Mei 2022. Pemeriksaan terkait penggunaan anggaran senilai Rp29 miliar yang digelontorkan ke KONI Lampung. 

Wandi Barboy








Berita Terkait



Komentar