Covid-19korona

Keterisian Tempat Tidur Isolasi di Wisma Atlet Belum Stabil

( kata)
Keterisian Tempat Tidur Isolasi di Wisma Atlet Belum Stabil
Koordinator RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet Mayjen TNI, Tugas Ratmono, saat Talkshow Satgas Penanganan covid-19 di Jakarta secara virtual. Lampost.co/Umar Robbani


Jakarta (lampost.co) - Tingkat hunian tempat tidur di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet per 25 Januari 2021 tercatat mencapai 77,63 persen. Jumlah itu menurun dari data pada 21 Januari yang mencapai 82,73 persen.

Meski begitu, jumlah itu masih belum stabil menyesuaikan angka penularan di masyarakat. Hal itu diungkapkan Koordinator RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet Mayjen TNI, Tugas Ratmono, dalam Talkshow Satgas Penanganan covid-19 di Jakarta secara virtual.

"Ini tidak terlepas dari pasien-pasien dikirim dari Puskesmas atau rumah sakit ke rumah sakit darurat covid-19 di Wisma Atlet saat ini," ungkapnya.

Ia menjelaskan jumlah pasien dan keluar setiap harinya di wisma atlet tidak jauh berbeda. Total ada 350 hingga 400 pasien yang masuk dan keluar di wisma atlet.

Ia memperkirakan, kondisi tersebut masih terus terjadi dalam sepekan ke depan. Untuk mengantisipasi kekurangan, pihaknya terus melakukan peningkatan pelayanan kesehatan.

"Jadi kami tetap harus waspada dan mengantisipasi, khususnya di Wisma Atlet, untuk mengantisipasi dengan melakukan penanganan dengan baik dan mencegah. Mudah-mudahan pasien tidak menjadi lebih berat lagi," kata dia.

Ia menambahkan, saat ini rata-rata pasien yang masuk ke RSD Wisma Atlet adalah pasien dengan gejala. Hal itu berbeda saat awal pandemi, sebagian besar pasien tanpa gejala.

Untuk itu, RSD Wisma Atlet menyiasatinya dengan menempatkan semua pasien yang bergejala di 4 tower di wisma tersebut. Sementara, pasien yang bergejala ringan, atau dengan komorbid dan juga yang tidak bergejala dialihkan ke tower 8 dan 9 di Pademangan, Jakarta Utara.

"Jadi ini saya kira satu koordinasi strategi yang sangat bisa membantu, paling tidak untuk mencapai angka yang lebih dari 80 persen," katanya.

Hal itu dilakukan supaya semua pelayanan teratasi dengan baik. Sehingga tenaga kesehatan juga tidak terbebani dengan jumlah yang sangat tinggi. "Walaupun angka 70-80 termasuk krusial dalam konteks memerlukan beban tenaga yang tinggi juga," katanya.

 

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar