#stunting#beritalampung#kesehatan

Kesadaran Gizi Masyarakat Cegah Stunting

( kata)
Kesadaran Gizi Masyarakat Cegah Stunting
Ilustrasi. Foto: Kemenkes

Bandar Lampung (Lampost.co): Tingginya angka stunting di Lampung mencapai 27% menjadi perhatian khusus dari pemerintah pusat. Meski turun dibandingkan tahun sebelumnya mencapai 30%, sehingga tahun ini ada penambahan lokus penanganan masalah stunting di Lampung. Di antaranya Tanggamus dan Pesawaran.

"Sekarang ini yang jadi perhatian bagaimana pencegahan dari sejak remaja, kalau generasinya sudah bagus akan melahirkan anak yang sehat. Generasi sehat dihitung sejak 1.000 HPK (Hari Pertama Kelahiran) sampai usia 2 tahun," ujar Ketua DPD Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Lampung Bertalina, Jumat, 17 Januari 2020.

Menurutnya, pada tri semester pertama kehamilan sejak awal pembentukan janin inilah merupakan masa penentuan anak stunting atau tidak. Pada tri semester pertama inilah pembentukan janin Seperti otak,jantung, paru-paru sehingga kalau kekurangan gizi maka pembentuknya akan terganggu sehingga  perlu mempersiapkan kehamilan.

"Penyebab utama masalah stunting ini juga selain masalah gizi, juga dipengaruhi oleh faktor lain. Seperti minimnya pengetahuan, sanitasi yang buruk, kondisi lingkungan, akses air bersih yang tidak cukup sehingga mudah terkena infeksi menyebabkan kesehatan turun akhirnya ibu kurang gizi dan pembentukan janin tidak sempurna," ujar Berta yang juga ketua program studi jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Tanjungkarang

Di Lampung, kata dia, ada beberapa daerah dengan tingkat stunting tinggi dan itu menjadi lokus angka stunting di Lampung dan yang menentukan adalah pusat. Masing-masing daerah ditunjuk 10 desa sebagai lokus angka stunting seperti Lampung Barat, Lampung Timur, dan Lampung Selatan.

"Awalnya lokus kita di Lampung selatan dan Lampung Timur, sekarang nambah Tanggamus dan Pesawaran," kata dia.

Menurutnya penanganan kasus stunting bukan hanya masalah faktor kesehatan. Dari kesehatan paling hanya sekitar 30%, sementara 70% dari sektor lain. Seperti pendidikan, pertanian, pangan, pekerjaan, dan keagamaan.

"Misalnya dalam Islam sudah dijelaskan juga memerintahkan untuk menyusui anaknya hingga 2 tahun. Ini kemudian ditekankan lagi kepada masyarakat.. Kemudian dari sektor pertanian bisa memanfaatkan lahan sekitar dengan menanam sayuran, kolam ikan, dan sebagainya," kata dia.

Dia mengatakan intervensi bagi yang sudah terkena stunting untuk bisa kembali ke kondisi normal sulit.

"Mungkin dari fisik bisa mengejar dengan asupan gizi makan yang banyak. Tapi secara otak karena pembentukan otak sejak dari dalam janin sulit, masa emas sudah lewat. Kemungkinan bisa dengan stimulasi di tumbuh kembang seperti bina latih keluarga untuk merangsang motorik. Tapi untuk meningkat 100% sulit," katanya.

 Dia mengatakan ciri stunting atau masalah gizi kronis bisa dilihat dari tinggi badan menurut umur. "Tapi untuk otak juga sulit harus tes kecerdasan, indikator pertama adalah tinggi badan," kata dia.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar