setitikair

Kerukunan Manusia

( kata)
Kerukunan Manusia
pixabay

Wandi Barboy
Wartawan Lampung Post

MULAI 1—16 September 2020 akan dilakukan pembacaan Testamen Munir, tokoh hak asasi manusia(HAM) manusia, oleh sejumlah seniman dan aktivis seperti Danto "Sisir Tanah", Jason Ranti, Roy Murtadho, Saras Dewi, dan lainnya. Informasi itu terungkap dari twit akun@omahmunir untuk memperingati 16 tahun pembunuhan Munir.

Mengawali September ini adalah saat yang baik untuk melakukan refleksi. Jika pada 1980-an lagu pop September Ceria begitu mengena di hati sebagian orang, September tahun ini juga September-September berikutnya bisa kita dengungkan sebagai bulan refleksi.

Maka, testamen Munir adalah refleksi, pembelajaran sejarah, peringatan situasi sekarang, sekaligus melanjutkan semangat perjuangan Munir. Untuk mengenangkan perjuangan Munir serta meresapi nilai-nilainya agar bisa diterima anak muda masa kini, pembacaan testamen Munir di Podcast Museum HAM Omah Munir ini yang paling mengasyikkan sudah barang tentu melalui Spotify dan YouTube.

Ya, pembacaan ini merupakan kumpulan obituari dari buku Munir: Kitab Melawan Lupa. Sejumlah seniman dan aktivis akan membaca buku dengan format audio dalam rangka mengenang juga mengontekstualisasikan kembali gagasan Munir.

Di sisi lain, ruang dalam Komnas HAM sedikit berubah dan makin atraktif. Sebabnya, ada mural bergambar tokoh hak asasi manusia seperti Gus Dur, Pramoedya Ananta Toer, Munir, Wiji Thukul, Mama Yosepha Alomang, Marsinah, Pater Neles Tebay, Asmara Nababan, juga Nelson Mandela. 

"Kami ingin siapa pun yang datang ke ruang sidang paripurna komnas teringat dan terinspirasi oleh para pejuang hak asasi manusia terkemuka Indonesia dan Internasional," tulis Komisioner Pendidikan dan Penyuluhan Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara, pada akun Twitter-nya beberapa hari lalu.

Pada kolom Setitik Air dengan nuansa yang religius ini, kutipan kalimat dari Mural Gus Dur saya kira paling cocok saya tuliskan di sini. Begini kutipannya: Memuliakan manusia berarti memuliakan Penciptanya. Merendahkan manusia berarti merendahkan dan menistakan Penciptanya.

Sementara itu, sastrawan Pramoedya Ananta Toer menuliskan soal manusia berdasarkan ajaran Multatuli, tokoh Belanda yang mengarang buku Max Havelaar. "Saya pegang ajaran Multatuli. Bahwa kewajiban manusia adalah menjadi manusia," demikian kalimat kutipan Pramoedya pada mural ruang Komnas HAM. 

Memungkasi catatan ini, saya mengutip kitab Mazmur 133:1. Tertera perikop berjudul Persaudaraan yang Rukun. Nyanyian ziarah Daud dari pemazmur. Bunyinya: Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!

Setiaji B Pamungkas



Berita Terkait



Komentar