#lampung#bandarlampung#kerajinan

Kerajinan Tangan dari Bahan Ramah Lingkungan Cukup Menjanjikan

( kata)
Kerajinan Tangan dari Bahan Ramah Lingkungan Cukup Menjanjikan
Pemilik Omah Cinta, Tri Indah Noviana, menunjukkan sejumlah produk yang dihasilkan dari barang bekas.

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Bahan atau barang bekas yang diolah dengan kreativitas menjadi produk unik dan menarik sehingga bisa mendaptkan penghasilan lumayan. Hal itu dilakukan wanita kreatif Tri Indah Noviana yang merupakan owner outlet kerajinan tangan sangat ramah lingkungan Omah Cinta di Jalan Pagar Alam, Gang Bahagia.

Dia dapat menghasilkan uang dengan cara unik, yakni bahan bekas dijadikan kerajinan hingga pewarnaan dengan menggunakan dedaunan dan beberapa tanaman yang dapat berubah warna. Omah Cinta yang berdiri sejak 2015 dan mendapatkan surat izin dari pemerintah beberapa mendapatkan penghargaan dari universitas yang berada di Lampung karena mampu menghasilkan karya sangat ramah lingkungan dan indah.

"Saya menggerakkan bisnis ini mulai dari hobi karena suka mengumpulkan barang-barang bekas, seperti koran, plastik, beberapa barang-barang yang sudah tidak terpakai saya olah bisa menjadi kotak tisu kertas, alas piring, dompet, dan berbagai macam kebutuhan keluarga mulai anak muda hingga dewasa dengan barang yang terjangkau dan unik," kata dia, Senin, 4 November 2019.

Dia menjalankan usaha handycraft dan sekarang lebih banyak memproduksi daur ulang dan ramah lingkungan. Pemasaran dari Omah Cinta lebih banyak ke luar Lampung, seperti Jakarta, Bandung , Batam, dan Surabaya. Selain itu hingga mancanegara, seperti Malaysia dan Hong Kong.

"Saya memiliki langganan justru di luar Lampung dari Jakarta, Bandung bahkan hingga Hong Kong. Pelanggan-pelanggan tersebut tiap bulan berulang mesan berbagai macam produk, seperti tas, dompet atau bahkan vas bunga," katanya.

Omzet yang dihasilkan Tri berkisar Rp10—Rp15 juta tiap bulannya. Dua pegawai sangat cukup mewakili dan memenuhi semua pesanan yang terus berdatangan.

"Saat ini saya fokus memproduksi barang yang ramah lingkungan, seperti ecoprint dan shibori dengan batik warna alam karena menurut saya itu sangat menjaga kelestarian alam serta pemanfaatan SDA memiliki nilai yang lebih ekonomis," katanya.

Dia mengaku memilih bisnis handycraft karena hobi berkreasi dan sangat ingin mengangkat kreasi khas daerah dengan memakai wastra Nusantara terutama kain khas Lampung.

"Hobi ini akan terus dikembangkan dan akan saya jadikan usaha karena memiliki banyak keuntungan. Selain memanfaatkan barang-barang yang sudah tidak berguna, saya juga dapat mendukung masyarakat yang ingin terus menjaga lingkungan dengan menggunakan barang-barang yang ramah lingkungan," ujarnya.

Tantangan terberat baginya adalah ketika masyarakat belum paham tentang kreasi handmade yang menjual nilai seni dan kreativitas. Mereka sering menawar begitu murah.

"Mungkin terlihat barang-barang yang digunakan adalah barang sudah tidak terpakai, seperti koran. Namun, alangkah baiknya jika masyarakat dapat melihat dari segi usaha dan kerajinan tangan sehingga masyarakat tidak semudahnya menawar dengan harga murah karena manusia yang membuat tersebut harus mengeluarkan tenaga yang cukup banyak,” katanya.

Muharram Candra Lugina

Berita Terkait

Komentar