#nuansa#demokrasi

Kepikunan Berdemokrasi

( kata)
Kepikunan Berdemokrasi
Ilustrasi (Foto: Dok/Google Images)

KEHIDUPAN romantis Kim Su Jin dan Choi Cheol Soo akhirnya sirna. Kehidupan bak Romeo dan Juliet dua pasangan muda yang tengah mengawali rumah tangga itu pupus lantaran Su Jin, sang istri, mengidap penyakit pikun akut, alzheimer.

Cheol Soo akhirnya menyadari sifat linglung dan pikun Su Jin ternyata gejala dari penyakit serius. Melalui keterangan medis seorang dokter spesialis, Cheol Soo akhirnya memahami alzheimer menyebabkan penderitanya kehilangan memori dalam ingatannya.

Su Jin bukan lagi tak ingat tengah memasak air, lupa menyiapkan bekal bagi suaminya, atau linglung mengingat jalan pulang ke rumah. Lebih parah lagi, Su Jin tak ingat segala galanya: ayahnya, ibunya, tak terkecuali suaminya, Cheol Soo.

Begitulah tema sentral film layar lebar asal Negeri Ginseng berjudul A Moment to Remember. Film ini tidak hanya menyuguhkan kisah romantis khas Korea Selatan, tetapi juga mampu menggambarkan betapa pahitnya dan getirnya kehidupan penderita alzheimer.

Kegetiran penderita alzheimer tak hanya ada dalam layar kaca. Beberapa hari terakhir, CNN Indonesia menyuguhkan berbagai kisah para penderita alzheimer dan orang-orang di sekitarnya yang berupaya melawan belenggu penyakit tanpa obat ini.

Ada kisah Ayu di Bandung yang 20 tahun lebih merawat sang suami, Andi, pensiunan bisnis perhotelan, pengidap alzheimer. Begitupun halnya dengan kakek Prihardijono di Sawangan, Depok, Jawa Barat, yang merawat istrinya, Atty Ganriyawati, juga pengidap alzheimer.

Belum ada obat mujarab dari penyakit yang menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai penyebab kematian ketujuh di dunia saat ini. Cinta kasih, ketulusan, dan komitmen orang-orang sekitar adalah penawar paling ampuh bagi penderitanya.

Lembaga itu juga memprediksi terdapat 47 juta lebih penderita alzheimer di dunia. Jumlahnya diprediksi bertambah menjadi 75 juta (2030) dan berlipat tiga kali lipat (2050), demikian rilis WHO memperingati Hari Alzheimer Sedunia 21 September lalu.

***

“Waduh, getir nian artikelmu ini, Dul Gepuk!” ujar Wak Labai mengomentari lembaran ketikan di tangannya.

“Ya, namanya juga menangkap ilham merengkuh honor menulis, Wak,” sahut Dul Gepuk semringah.

“Coba ya Mak Jodhah mengidap alzheimer,” celetuh Sutan Aji.

“Kan lumayan kalau dia lupa akan utang kopi kita yang sudah berpuluh puluh gelas di warungnya ini.”

“Paling bahaya itu kepikunan dalam berdemokrasi,” tiba-tiba Mak Jodhah ikut nimbrung.

“Wih, keren bener istilahnya, Mak? Penyakit apa pula itu?” tanya Dul Gepuk.

“Itu penyakit masyarakat yang tiba-tiba pikun mendadak lantaran uang segepok dan akhirnya memilih wakil rakyat yang jelas-jelas mantan terpidana korupsi dan lain sebagainya,” terang Mak Jodhah.

Abdul Gafur/ Wartawan Lampung Post

Berita Terkait

Komentar