#tumbai#kepalamanusia

Kepala Manusia sebagai Tebusan Pembunuhan

( kata)
Kepala Manusia sebagai Tebusan Pembunuhan
Ilustrasi. (Dok.Lampost.co)

MENURUT berita du Bois, jika seorang laki-laki dibunuh, semua anggota suku laki-laki wajib membalaskan dendamnya. Jika pembunuhnya anggota dari suku Buwei lain, atau ia melarikan diri ke wilayah yang berbatasan dengan Buwei, dilakukan perundingan yang tujuannya pengiriman pelaku pembunuhan itu.

Melalui mediasi para penyimbang suku Buwei lain, biasanya dilakukan kesepakatan berupa penebusan dosa yang berkisar 400—1.000 real (1 real + 2 gulden, mata uang Belanda dulu). Ini terjadi sekitar tahun 1820. Besaran penebusan dosa bergantung pada yang terbunuh memiliki kedekatan dengan para penyimbang di sukunya.

Untuk itu, harus disediakan selembar kain putih berukuran 2—2,5 meter yang digunakan sebagai kain kafan korban terbunuh dan lima kerbau. Kerbau itu disembelih bergantian sebagai kurban dan saat pemakaman, pada hari ketiga, ketujuh, ke-40, dan ke-100, setelah pemakaman.

Kemudian, disediakan satu atau dua kepala manusia yang bila mungkin baru saja disembelih. Kepala ini dipersembahkan untuk keluarga terdekat korban pembunuhan. Setelah digunakan sebagai penahan kaki di tempat upacara suku tersebut, kepala persembahan dikubur di bagian kaki korban terbunuh. Namun, kemudian anggota keluarganya sendiri masih mengurbankan Irawan, seorang manusia yang masih hidup.

Kurban itu diikat pada tiang dan dilukai dengan tombak. Lalu, lehernya dipotong untuk Irawan. Darahnya ditampung dan dicampurkan dengan darah kerbau yang telah disembelih.

Keluarga terdekat korban terbunuh mengolesi tubuhnya dengan darah campuran antara manusia dan kerbau ini. Darah tersebut tampaknya juga masih dicampur dengan air. Pembunuhnya juga harus menyediakan Irawan ini.

Untuk tidak menciptakan penangkapan suatu Irawan guna pembalasan dendam lagi, pengurbanan biasanya ditemukan di area terpencil. Orang Abung yang kaya juga harus menggunakan budak untuk pengurbanan darah. Namun, terdapat larangan keras menggunakan budak yang diperoleh dari warisan keluarga. Budak yang boleh digunakan untuk Irawan adalah yang dibeli dengan usaha sendiri.

Tidak ada hal yang perlu diragukan lagi atas kebenaran cerita du Bois. Begitu pula berita yang kembali diceritakan yang berdasarkan pengalaman penduduk, merupakan konfirmasi dari adat yang dijelaskan. Penebusan uang yang dibayarkan si pembunuh kepada keluarga terdekat korban membuktikan adanya pemikiran modern.

Pengurbanan kerbau di makam orang yang meninggal adalah pengurbanan darah seperti yang terjadi pada petani cangkul di tingkat budaya menengah. Waktu untuk penyembelihan kerbau tidak memberikan informasi lain. Kemungkinan 100 hari merupakan waktu untuk berduka. Namun, yang paling penting adalah tradisi ketika si pembunuh harus menyediakan dua kepala manusia untuk keluarga yang terbunuh. Dalam hal ini diceritakan bahwa sanak saudara harus menggunakan kepala tersebut sebagai penahan kaki di Sesat Marga, yaitu tempat perkumpulan suku tersebut.

Dari perspektif pegawai administrasi Eropa, proses ini terlihat berlebihan. Kenyataan dari penghantaran dua kepala manusia kepada keluarga terbunuh menunjukkan pemikiran khas bagi bangsa pemburu kepala bahwasanya untuk orang-orang tersebut kekuatan gaib bertempat di kepala.

Suku yang berduka akibat pembunuhan itu menerima kesetaraan dengan adanya penebusan dari si pembunuh atas penghilangan nyawa. Dalam penghantaran dua kepala mungkin bermakna penyesalan yang harus ditanggung melalui penebusan suci kepada suku yang berduka. Hal itu merupakan pemikiran khas Orang Abung bahwa setiap kejadian kriminal di samping konten faktualnya masih menggambarkan pelanggaran terhadap aturan resmi masyarakat adat. Oleh sebab itu, perlakuan yang tidak diizinkan dapat dikenai hukuman dua kali lipat.

Atas alasan ini, di samping kewajiban si pelaku atas penebusan atau pengembalian keadaan semula, keharusan melakukan penebusan sepenuhnya bergantung pada penyimbang, perwakilan dari aturan yang berlaku di masyarakat. Mungkin bisa disimpulkan bahwa kepala tersebut digunakan oleh orang yang meninggal atau mungkin jasad yang dikubur.

 

Menyadur buku Orang Abung, Catatan Rakyat Sumatera Selatan dari Waktu ke Waktu oleh Friedrich W Funke.

Menyadur buku Orang Abung, Catatan Rakyat Sumatera Selatan dari Waktu ke Waktu oleh Friedrich W Funke.

Berita Terkait

Komentar