#terorisme#radikalisme

Kepala BNPT: Islam Bukan Teroris, Teroris Bukan Islam

( kata)
Kepala BNPT: Islam Bukan Teroris, Teroris Bukan Islam
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Komjen Boy Rafli Amar. Dok Medcom


Jakarta (Lampost.co) -- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Komjen Boy Rafli Amar, menegaskan teror yang marak terjadi bukan ajaran Islam. Para teroris menyalahgunakan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin menjadi dasar kekerasan.

"Islam itu bukan teroris dan teroris itu bukan Islam," tegas Boy dalam webinar Ikatan Doktor Ilmu Komunikasi (IDIK) Universitas Padjadjaran (Unpad) bertema 'Komunikasi Strategis Umat Islam dalam Menangkal Terorisme,' Sabtu, 8 Mei 2021.

Boy menuturkan ada dua teror terjadi pada awal 2021. Aksi bom bunuh diri suami istri di Gereja Katederal Makassar, Sulawesi Selatan, terjadi pada Minggu, 28 Maret 2021, dan penyerangan Bareskrim Polri pada Rabu, 31 Maret 2021.

"Pelaku teror di kedua tempat tersebut terpapar radikalisme. Mereka masuk dalam kategori kelompok rentan," ujar jenderal bintang tiga itu.

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amirsyah Tambunan, menegaskan fatwa MUI menyatakan teror haram hukumnya. Islam dengan jelas disebutkan dalam Al-Quran sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Islam tidak mengajarkan tentang terorisme dan radikalisme.

Menurut dia, para teroris mengkomunikasikan ideologinya kepada para calon pelaku dengan kata-kata jihad. Padahal, jihad tidak identik dengan teror. 

Dia menegaskan jihad juga tidak dapat diartikan sebagai bom bunuh diri dengan tujuan menyerang orang lain, apalagi penganut agama lain. Pelaku teror menganggap perbuatannya yang sesat itu sebagai perjuangan untuk agamanya, padahal itu sama sekali bukan ajaran Islam.

"Jihad itu maknanya perjuangan dengan sungguh-sungguh dan tidak diartikan perang. Perlu pemaknaan yang jelas agar tidak sesat dalam memaknai kata jihad dalam Al-Quran," jelas Amirsyah.

Dia mengatakan Islam itu agama thabat (tetap) yang mendasarkan pada akidah, ibadat, syariat, halal, haram, wajib, dan makruh. Islam juga agama yang tawazun atau memperhatikan keseimbangan. 

Amirsyah menyebut setidaknya ada beberapa ayat yang menegaskan Islam datang untuk kebaikan semua umat manusia. Masalah ini ada di surah Al Baqarah ayat 143, Saba ayat 28, Ali Imron ayat 110, dan An Nahl ayat 25.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, Asep Saeful Muhtadi, penganut radikalisme maupun terorisme memaknai jihad sesuai keinginan kelompoknya. Untuk memaknai satu ayat dalam Al-Quran sejatinya harus dilakukan orang yang punya otoritas tinggi, yakni kaum alim ulama, ustaz, dan tokoh agama.

"Hal itu agar tidak terjadi kesalahan dalam memaknai kata jihad," kata Asep.

Menurut Asep, umat Islam ialah pengikut Nabi Muhammad SAW. Alhasil, jika ada teror kekerasan oleh orang yang mengaku sebagai umat Islam patut dipertanyakan. 

"Apakah Nabi Muhammad pernah mengajarkan aksi bom bunuh diri, tentu tidak," kata Asep.

Menurut dia, pemerintah juga perlu hati-hati dalam menyampaikan berita tentang aksi teroris. Hal itu tidak boleh sampai menimbulkan sakit hati kepada umat Islam. Masyarakat juga perlu hati-hati dalam menyikapi pesan-pesan jihad atau ajakan perang di media sosial.

"Cermati dulu, cerna dulu, dan pahami dulu. Jangan langsung dipercaya apalagi disebarkan," ujar Asep. 

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar