#sampahplastik#lingkungan#humaniora

Kendalikan Sampah Plastik

( kata)
Kendalikan Sampah Plastik
Ilustrasi. (Google Images)

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Seluruh elemen masyarakat harus sadar dan peduli terhadap isu lingkungan hidup yang sehat. Penggunaan sampah plastik rumah tangga dan industri harus diperhatikan oleh semua pihak. Meminimalisir penggunaan plastik, pengolahan sampah yang baik juga harus dilakukan.

Masyarakat juga didorong untuk memiliki tanggung jawab pribadi untuk menghilangkan polusi plastik dengan cara menolak, mengurangi, menggunakan kembali dan mendaur ulang plastik. Skala pencemaran sampah plastik sudah mencapai tahap yang sangat mengkhawatirkan. Setidaknya 8 juta ton plastik mengotori lautansetiap tahun, atau setara dengan satu truk sampah plastik yang dibuang setiap menit ke laut.  

Dari hasil produksi barang-barang plastik tersebut, sebanyak 32 juta ton plastik terbuang menjadi limbah yang tidak bisa ditangani pada 2010. Jumlah sampah plastik yang tak tertangani tersebut akan meningkat menjadi 100-250 juta ton pada 2025. Tak hanya mencemari daratan, sampah plastik merugikan ekosistem laut sebesar 8 miliar dolar Amerika Serikat per tahun. Kerugian itu berasal dari kerugian di sektor perikanan, budi daya ikan, wisata bahari dan pembersihan limbah. Kerugian di industri wisata bahari saja bisa mencapai 622 juta dolar Amerika Serikat per tahun.

Greenpeace Indonesia menyatakan, akar utama permasalahan dari pencemaran sampah plastik saat ini adalah dominannya kebijakan dan pola pikir pragmatis, gaya hidup instan dan budaya ‘buang (jauh)’ yang tidak bertanggungjawab, serta perilaku produsen yang mengoptimalkan keuntungan semata dengan meninggalkan sebagian besar tanggungjawabnya. Lahirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah semula diharapkan dapat menjadi acuan kebijakan yang mempercepat efektifitas penanganan pengelolaan sampah secara nasional serta di tingkat pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung, Intizam mengatakan pihaknya terus melakukan terobosan untuk menyelesaikan persoalan sampah. Ia mengatakan bahwa Pemerintah Daerah Provinsi Lampung sedang melakukan penjajakan rencana pembangunan Pembangunan Listik Tenaga Sampah (PLTSa). Kemudian ia mengatakan saat ini pihaknya mengajak kabupaten/kota untuk menghitung jumlah timbunan sampah yang ada.

"Selain itu salah satu upaya kita adalah membuat himbauan untuk mengurangi atau bahkan bila memungkinkan untuk meniadakan penggunaan bahan yang menggunakan plastik dalam setiap moment acara," katanya kepada Lampung Post, Senin (12/8/2019).

Sementara itu Akademisi Sosiologi Lingkungan dari Universitas Lampung, Erna Rochana mengatakan sampah memang dapat dikelola melalui 3 R yakni Reuse, Reduce and Reciclyng. Dengan masing-masing kelebihan dan kelemahan.Pengelolaan sampah dengan teknologi senantiasa terus diupayakan. Teknologi bio untuk sampah organik, tetapi untuk sampah an organik seperti  plastik dan metal tidak perlu teknologi yang berbeda. 

"Pengelolaan sampah menjadi bahan bakar perlu kajian khusus, sampah plastik dibakar akan menimbulkan polusi udara yang sangat berbahaya," katanya.

Sebaiknya kebijakan pengelolaan sampah dilakukan secara terintegrasi dan komprehensif. Dipisahkan dari sumbernya (rumah tangga). Sampah tidak dicampur (organik anorganik) sehingga dapat diperlakukan sesuai dengan karakternya, berdaya guna, (bermanfaat ekologis, ekonomis, sosial) dan rendah resiko.

"Kebijaksanaan gerakan memilah sampah dari sumbernya untuk dikelola. Bukan dipindah dan ditumpuk saja. Sampah organik dikelola jadi pupuk, plastik didaur ulang jadi perkakas plastik sementara logam dilebur dan dicetak ulang jadi perkakas yang bermanfaat," katanya. 

Triyadi Isworo

Berita Terkait

Komentar