#persidangan#narkoba#beritalampung

Tiga Warga Bandar Lampung Pengendali Sabu 41,6 Kg Dituntut Mati

( kata)
Tiga Warga Bandar Lampung Pengendali Sabu 41,6 Kg Dituntut Mati
Suasana persidangan kasus narkoba di PN Kelas IA Tanjungkarang. Lampost.co/Salda Andala

Bandar Lampung (Lampost.co): Tiga terdakwa kasus penyalahgunaan narkoba, Jefri Susandi (41) warga perumahan Puri Hijau, Kecamatan Kedaton; Supriyadi alias Udin (33) warga Telukbetung Selatan; Hatami alias Tami alias Iyong (33) warga Telukbetung Selatan dituntut hukuman mati oleh Jaksa Penuntut Umum Roosman Yusa dalam persidangan virtual dengan agenda pembacaan tuntutan yang digelar di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Kamis, 9 Juli 2020.

"Sesuai Pasal 114 Ayat (2) juncto Pasal 132 Ayat (1) Undang-Undang RI Nomor: 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Maka meminta menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana mati," ujarnya, Kamis, 9 Juli 2020.

Jaksa Roosman mengatakan barang bukti milik terdakwa yakni berupa 40 bungkus plastik alumunium foil warna merah dan kuning berukuran besar berisikan kristal putih dengan berat keseluruhan 41.608,06 gram.

Sebelumnya, BNNP Lampung menangkap Muntasir dari hasil pengembangan jaringan pengiriman sabu seberat 41,6 kilogram di Lampung.

Awalnya BNNP Lampung mengamankan Suhendra alias Midun (38) yang juga di tuntut hukuman mati oleh JPU warga Jalan Gunung Kunyit dan Irfan Usman (38) warga Baktiya Baret Kab Aceh Utara yang mati tembak di tempat.

Kemudian berkembang ke Hatami alias Tami alias Iyong (33) warga Telukbetung Selatan; Supriyadi alias Udin (33) warga Telukbetung Selatan; dan Jefri Susandi (41) warga perumahan Puri Hijau, Kecamatan Kedaton yang berada di dalam lembaga pemasyarakatan.

Baru setelah itu, BNNP Lampung menangkap Muntasir (tuntutan mati), warga Bandarraya, Kota Banda Aceh sebagai orang yang bertanggung jawab dalam pengiriman sabu tersebut.

Sementara itu, Pusat Bantuan Hukum Peradi Bandar Lampung Ahmad Kurniadi dan Muhammad Iqbal mengatakan keberatan atas tuntutan yang diberikan JPU. Menurutnya, kliennya adalah korban jaringan.

"Kita sebagai penasehat hukum merasa keberatan dan terus mengusahakan yang terbaik buat para terdakwa. Menurut kita terlalu tinggi apalagi mereka hanya korban jaringan kemudian dimotori. Baru pertama kali serta merupakan korban jaringan," imbuhnya.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar