#pbb#pajak

Kenaikan Tarif PBB di Metro Disebut Imbas Penyesuaian NJOP

( kata)
Kenaikan Tarif PBB di Metro Disebut Imbas Penyesuaian NJOP
Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Kota Metro, Arif Joko Arwoko (tengah). Lampost.co/Bambang Pamungkas


Metro (Lampost.co) -- Penaikan tarif Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Perkotaan dan Pedesaan (PBB-P2) menjadi keluhan warga Kota Metro. Peningkatan tarif disebut dampak penyesuaian Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) lantaran belum pernah ada kenaikan sejak 2012 hingga 2018. 


Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Kota Metro, Arif Joko Arwoko menyebut penyesuaian itu juga dilakukan dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). 

"Sehingga pada 2018 kita lakukan penyesuaian NJOP dan ada peningkatan tarif," kata dia, Jumat, 20 Mei 2022. 

Baca: Metro Rencanakan Penambahan Stimulus PBB

 

Setelah itu, lanjut Arif, penyesuaian tersebut dibuatkan dasar berupa Surat Keputusan Wali Kota Metro pada 2019. 

"Pada 2018-2019 terjadilah kenaikan kurang lebih Rp16,8 miliar sehingga masyarakat merasa kaget," tambahnya. 

Meski begitu, Pemkot Metro tetap memberikan stimulus atau diskon kepada warga antara 45-90%. 

"Tapi ada saran dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) bahwa stimulus jangan diberikan secara flat selama tiga tahun berturut-turut," kata dia. 

Berdasarkan saran tersebut, maka pihaknya melakukan pembahasan secara berjenjang dengan pemberian stimulus agar tidak sama dari tahun sebelumnya. 

"Total seharusnya dari 55.664 SPPT atau wajib pajak ketetapan tersebut bisa memperoleh Rp16 miliar. Lalu kita diskon 50 persen menjadi Rp8,8 miliar. Supaya bagaimana masyarakat bisa ringan untuk membayar dan target PAD retribusi PBB bisa 100 persen," ungkapnya. 

Sobih AW Adnan








Berita Terkait



Komentar