#penaikanbbm#hargabbmnaik#kuliner

Kenaikan Harga BBM Ancam UMKM Kuliner Online Gulung Tikar 

( kata)
Kenaikan Harga BBM Ancam UMKM Kuliner Online Gulung Tikar 
Tangkap layar penjualan kuliner online di Facebook. Istimewa


Kalianda (Lampost.co) -- Penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) turut berdampak terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kuliner online rumahan di Lampung Selatan. Mereka terancam gulung tikar karena ongkos kirimnya turut naik.

Usaha kuliner rumahan atau home made yang dijual menggunakan media sosial seperti Facebook tumbuh subur pada saat awal pandemi Covid-19 atau pertengahan 2022. Pemesanan online kuliner di masa pandemi Covid-19 karena dianggap praktis dan tidak kontak langsung sehingga mengurangi risiko penularan. 

Namun, setelah masa pandemi Covid-19 mulai berakhir seiring meningkatnya vaksinasi, omzet usaha kuliner pesan dan antar makanan, mulai menyusut. "Mulai terasa omzet berkurang awal tahun ini," kata Rahma (43), pelaku usaha kuliner online, Selasa, 13 September 2022.

Usaha kuliner rumahan miliknya menjual beberapa makanan cepat saji, seperti ayam goreng atau bakar lengkap dengan sambal dan lalapan, serta kuliner makanan lainnya. "Semua bisa dipesan mulai makanan berat sampai ringan dan aneka minuman ringan," ujarnya.

Menurut warga Desa Sidodadi, Kecamatan Sidomulyo itu, usaha kuliner yang digelutinya sejak 2016 silam makin terancam gulung tikar dengan penaikan harga BBM. "Kalau begini terus menerus, memang bisa gulung tikar," katanya.

Baca juga: Penyaluran BLT-BBM dan Sembako Tahap II di Palas-Sragi 15 September

Kebiasaan antar makanan yang merupakan pelayanan tambahan sudah menjadi kebiasaan pelanggan. Namun, dangan harga BBM naik, membuat modal bertambah.

"Kalau sebelumnya, antar daerah sekitar tidak ada tambahan biaya atau ongkos kirim, sekarang sudah tidak bisa," ujarnya.

Ibu dua putri itu menjelaskan sempat menyesuaikan harga untuk ongkos kirimnya, akan tetapi para pelanggan menolak."Ongkos kirimnya untuk tambahan beli minyak motor," katanya.

Akibatnya, sudah sepekan tidak berjualan makanan karena masih belum ada penyusuaian harga. "Namanya juga di kampung, pola antar gratis masih belum menjadi tradisi. Sementara tidak jualan dulu, masih lihat perkembangan," ujarnya. 

Hal senada diungkap penjual kuliner online lainnya, Suratno, sejak BBM naik hanya melayani penjualan mi ayam di kediamannya, untuk pesanan kiriman disetop dahulu. "Melayani penjualan di rumah saja dulu, meskipun omzet mulai turun," kata warga Kecamatan Kalianda itu. 

Untuk pemesanan antar alamat masih tetap dilayani, jika ada tambahan ongkos kirim karena menyesuaikan harga BBM yang sudah naik. "Sebenarnya masih bisa diantar asalkan tambah ongkos kirim," katanya.

Muharram Candra Lugina








Berita Terkait



Komentar