#Buras#PKH#kemiskinan

Kemiskinan Turun Terus Jadi 9,41%!

( kata)
Kemiskinan Turun Terus Jadi 9,41%!
H. Bambang Eka Wijaya. (Foto: Dok/Lampost.co)

KEMISKINAN di Indonesia terus turun menjadi 25,14 juta jiwa atau 9,41% pada Maret 2019 dibanding 25,67 juta jiwa atau 9,66% pada September 2018. Jumlah penduduk Indonesia 2019 diproyeksikan sebanyak 266,9 juta jiwa. Berkurangnya jumlah orang dari bawah garis kemiskinan sebanyak 530 ribu jiwa dalam satu semester, berarti untuk mengentaskan 25,14 juta jiwa sisanya dari bawah garis kemiskinan perlu waktu selama 50 semester alias 25 tahun. Itu tentu waktu yang terlalu lama untuk dilakoni warga miskin. 

Kenapa hasil pengentasan kemiskinan di negeri kita terkesan kurang menohok, padahal berbagai program terkait yang dijalankan cukup besar anggarannya. Lihat saja program keluarga harapan (PKH) dengan nilai bantuan untuk per orang anak SMA Rp1,5 juta, SMP Rp1 juta, dan SD Rp750 ribu. Ibu hamil dan menyusui serta anak balita mendapat tunjangan tersendiri lagi, dengan bantuan dasar rutin pula untuk keluarganya. Ditambah dana BOS dan beasiswa khusus anak keluarga tak mampu, bantuan pangan nontunai (BPNT) sampai gratis berobat dengan iuran BPJS Kesehatan 96 juta warga kurang mampu ditanggung APBN. Pokoknya tak adalah kurangnya perhatian pemerintah kepada mereka. Tapi kenapa hasilnya kurang sebanding? 

Jawabnya karena segala bantuan yang diguyurkan pemerintah itu bagi sebagian besar warga miskin penerimanya secara efektif baru sebatas menolong mereka untuk survival (bertahan hidup). Itu salah satunya karena kemiskinan di negeri ini bersifat historis struktural, warisan zaman ke zaman. Justru setiap rezim kontemporer berusaha keras mengangkat mereka dari bawah garis kemiskinan, dengan segala daya upaya yang mampu dilakukan di antaranya sebagai unjuk prestasi, tapi hasilnya selalu kurang maksimal. 

Sebenarnya bukanlah rahasia, itu karena kemiskinan struktural akibat penindasan di masa lalu itu, telah mengakibatkan kelumpuhan intrinsik kaumnya. Sehingga, tanpa kebangkitan para aktornya sendiri melepas belenggu kemiskinan atas diri mereka, sukar mengangkatnya dari jurang kemiskinan. Tanpa upaya pembangkitan dari diri mereka sendiri, bantuan yang bertubi-tubi malah bisa membuat mereka terlena merasa "dimanja" oleh bantuan cuma-cuma.  Mungkin harus ada yang mampu memainkan simfoni pedagogy of the oppressed-nya Paulo Freire, dengan menghadirkan kelembagaan yang membuat mereka sadar dan bangkit memperbaiki nasib kaumnya sendiri. Sebab, nasib suatu kaum tak akan berubah jika kaum itu sendiri tak berusaha mengubahnya.

 

H. Bambang Eka Wijaya

Berita Terkait

Komentar