#lampung#ptggp#ptptgglc

Kementan Siap Kucurkan Rp1 T Dana KUR untuk Lampung

( kata)
Kementan Siap Kucurkan Rp1 T Dana KUR untuk Lampung
Menteri Pertanian Syahril Yasin Limpo bersama Gubernur Lampung Arinal Djunaidi dan sejumlah dirjen usai penandatangan MoU. Dok


Gunungsugih (Lampost.co) -- Kementerian Pertanian siap menggelontorkan dana Rp1 triliun yang disalurkan melalui sistem KUR untuk petani dan peternak Lampung. Hal ini sebagai wujud keseriusan Kementerian Pertanian untuk menjadikan Lampung sebagai lokomotif baru pertanian di Indonesia.

Hal ini disampaikan Kementan Syahril Yasin Limpo (SYL) saat melepas ekspor nanas kaleng dan panen anakan sapi (pedet) di PT GGP dan PT GGLC, Selasa, 17 Desember 2019. Menurut Menteri Syahril, adanya KUR akan memudahkan para petani/pekebun/peternak dalam hal permodalan. Sementara terkait penerapan teknologi dan manajemen bisa diserahkan kepada PT GGP/PT GGLC (PT GGF) dengan sistem kemitraan.

"Kalau memberi bantuan traktor ke kelompok tani, rusak sedikit sudah kepikiran mau dijual. Mari Pak Gubernur, kita bantu melalui KUR. Saya lebih senang para petani/peternak datang ke bank dan membeli sendiri alat-alat yang dibutuhkan. Bantuan itu hanya stimulan," kata Mentan.

Tanah Lampung, menurut Syahril, adalah anugerah Tuhan yang siap dijadikan lokomotif pertanian baru di Indonesia. Sebab itu, Mentan meminta para dirjen yang ada dalam rombongannya untuk memberi perhatian pada Lampung.

"Saya suka kalau ada yang agresif asalkan ujungnya untuk kepetingan rakyat. Mari kita bantu, Gubernur jamin, menteri jamin, sehingga para petani/pekebun/peternak bisa gunakan KUR," ujarnya.

Selain melepas ekspor dan menyaksikan panen anak sapi (pedet), Menteri Pertanian juga menyaksikan MoU peningkatan ekspor hasil perkebunan, hasil pertanian tanaman pangan, dan hasil peternakan antara Pemprov Lampung dan dirjen terkait.

Adanya MoU antara Pemprov Lampung dan para dirjen di Kementan, menurut Syahril, menjadi langkah awal menjadikan Lampung sebagai contoh daerah pertanian yang maju di Indonesia.

Director Corporate Affair Welly Sugiono menyampaikan sejumlah persoalan yang dihadapi perusahaan, di antaranya diskriminasi dalam hal biaya ekspor nanas kaleng ke Eropa dan ekspor pisang ke Korea. Selain itu, kesulitan perusahaan menambah lahan juga sempat disinggung.

Terkait sejumlah persoalan yang disampaikan manajemen PT GGF, Mentan menegaskan siap membantu.

Pada 2018, kata Welly, ekspor nanas PT GGP mencapai 17 ribu kontainer lebih dan sedikit meningkat di 2019. "Pada 2019 naik, lebih tinggi dari 2018, tetapi tidak banyak," katanya.

Hasil perkebunan pisang dan nanas juga sudah diekspor ke Tiongkok, Jepang, dan Korea. Produksi masih harus ditambah tetapi terkendala lahan.

PT GGF bermitra dengan petani dan menanam di lahan seluas 460 ha tanpa harus menguasai lahan tersebut. Sementara di bidang peternakan, populasi sapi di PT GGLC saat ini mencapai 20 ribu lebih. Pengembangbiakan (breeding) telah menghasilkan 7.400-an ekor.

Selain Menteri Pertanian beserta para dirjen, acara pelepasan ekspor nanas kaleng dan panen pedet sapi PT GGP dan PT GGLC di ruang Training Center PT GGP juga dihadiri Kapolda Irjen Purwadi Arianto, unsur Forkopimda Lampung, Bupati Lamteng Loekman Djojosoemarto beserta unsur forkopimda setempat, dan  petani/peternak mitra PT GGP/PT GGLC.

Muharram Candra Lugina







Berita Terkait



Komentar