#presidenAS#pilpresAS#demokrasi#beritainternasional#donaldtrump#joebiden

Kemenangan Biden Menjadi Presiden AS Menguntungkan Indonesia

( kata)
Kemenangan Biden Menjadi Presiden AS Menguntungkan Indonesia
Kemenangan Joe Biden menjadi Presiden AS keuntungan bagi Indonesia. Foto: AFP/Mandel Ngan.


Jakarta (Lampost.co): Kemenangan Presiden terpilih Amerika Serikat (AS), Joe Biden, diprediksi membawa keuntungan bagi Indonesia. Asalkan, Biden berkomitmen menjaga hubungan baik dengan Indonesia.

“PR (pekerjaan rumah) Biden harus konsisten menjaga hubungan diplomatik dengan Indonesia,” kata peneliti politik AS, Jerry Massie, Minggu, 8 November 2020.

Jerry mengatakan Indonesia harus gesit memanfaatkan kemenangan Biden. Apalagi, kemenangan Biden dianggap sebagai angin segar setelah Negeri Paman Sam dipimpin Donald Trump.

"Sedangkan pada masa Donald Trump, AS sangat rasis dan cenderung anti Islam," ucap dia.
 
Ujang menyakini hubungan diplomatik Indonesia-AS di bawah kepemimpinan Biden akan semakin baik. Mengingat perlakuan Biden terhadap umat muslim.
 
"Untuk saat ini Indonesia lebih diuntungkan, sambil melibat perkembangan kepemimpiman Biden ke depan. Apakah sesuai dengan janji kampanyenya atau tidak," kata Ujang.
 
Joe Biden terpilih sebagai Presiden AS setelah mendapatkan 279 electoral vote, sedangkan Donald Trump hanya 214. Angka 279 yang raih Biden cukup membawanya ke Gedung Putih. Namun penghitungan suara masih berlangsung dan angka untuk Biden sepertinya akan terus bertambah.

Plus Minus Terpilihnya Biden untuk Kerja Sama Perdagangan RI

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani mengatakan Biden yang diusung Partai Demokrat cenderung lebih formal dan sesuai prinsip multilateral. Ini dinilai menciptakan kepastian yang baik dalam relasi dagang dan investasi.
 
"Namun, di sisi negatifnya penekanan pada fair trade yang menyebabkan peningkatan kasus-kasus trade remedies yang dilakukan AS secara bilateral maupun multilateral terhadap Indonesia," kata Shinta kepada Medcom.id, Minggu, 8 November 2020.

Dengan Biden, Shinta menilai limited trade deal yang diusulkan Indonesia mungkin akan membutuhkan waktu lebih lama atau perlu ditransformasikan kembali. Pasalnya Biden memiliki agenda tersendiri terkait kebijakan multilateralisme yang dijalankannya.
 
"Sehingga kemungkinan AS akan beralih menjadi lebih menyukai trade deal yang conform dengan aturan WTO seperti FTA atau CEPA," jelas dia.
 
Untuk itu, Shinta menambahkan Indonesia perlu terus memperbaiki iklim usaha dan investasinya. Sementara, perang dagang antara AS dengan Tiongkok tidak akan sepenuhnya berakhir karena Biden ingin menciptakan lebih banyak lapangan kerja di dalam negerinya.
 
"Semua tergantung pada daya tarik iklim usaha dan investasi Indonesia. Sementara konflik AS-Tiongkok dan negara-negara cenderung terus dipertahankan oleh Biden karena kebutuhan ekonomi internalnya sendiri, khususnya untuk job creation," pungkasnya.

Adi Sunaryo







Berita Terkait



Komentar