#nuansa#kembali-ke-laut#wandi-barboy
Nuansa

Kembali ke Laut

( kata)
Kembali ke Laut
Ilustrasi Pixabay.com

NATUNA jadi masalah. Perairan Natuna di Kepulauan Riau diperebutkan Tiongkok dan Indonesia. Presiden Jokowi turun langsung dan bertolak ke Pangkalan Angkatan Laut Terpadu Selat Lampa, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Rabu (8/1). Persoalan ini terus bergulir dan semua menunggu dengan sikap berhati-hati dan waspada.

Namun, melalui catatan ini, izinkan saya tidak membahas persoalan kedaulatan negara yang sudah barang tentu tidak bisa ditawar. Pada rubrik Nuansa akhir pekan ini, saya mau mengenangkan kembali Indonesia sebagai negara maritim atau negeri bahari.

Dikipasi soal Natuna yang terus berembus ini, saya teringat pidato Jokowi saat pelantikan pertamanya sebagai presiden pada 20 Oktober 2014. Saya ambil sepenggal kutipan yang menyebutkan, “Kita telah lama memunggungi samudera, laut, selat, dan teluk. Maka, mulai hari ini, kita kembalikan kejayaan nenek moyang sebagai pelaut pemberani. Menghadapi badai dan gelombang di atas kapal bernama Republik Indonesia.”

Kini, sudah benar-benarkah kita mencintai laut sebagaimana lagu nenek moyangku seorang pelaut? Memang sudah ada Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kemaritiman, tetapi apakah cukup dengan dua institusi negara itu kita benar-benar berpijak ke laut?

Dilingkupi ihwal kelautan yang centang perenang ini, saya merujuk buku Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut? yang ditulis Muhammad Ridwan Alimuddin (2014). Pada bukunya, Ridwan menuliskan sudah lama bangsa ini mengabaikan laut.

Sejak sekolah dasar, kita diajarkan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan. Negara yang terdiri dari 17 ribu pulau lebih baik kecil maupun besar yang menunjukkan betapa luasnya laut kita. Namun, hal tersebut tidak lebih hanya menjadi hafalan. Pelajaran itu tidak beranjak dari buku-buku ajar sekolah. Ia menjadi pengetahuan yang sekadarnya. Bahkan, arti nusantara yang secara harfiah berarti di antara pulau telah kehilangan realitasnya.

Sekarang, kita bisa bertanya dengan belasan ribu pulau itu, dengan sikon Natuna yang dicabik-cabik Tiongkok, mau diapakan belasan ribu pulau itu? Sastrawan Pramoedya Ananta Toer melalui anak rohani (baca: karya) Arus Balik telah lama mengingatkan pentingnya Indonesia kembali ke laut. Pemikiran tentang kelautan harus terus dihidupkan bukan hanya karena nenek moyangku seorang pelaut, melainkan di situlah kekuatan bangsa ini.

Ratusan tahun lamanya nenek moyang bangsa ini berjaya saat memiliki kerajaan maritim seperti Sriwijaya dan Majapahit. Namun, pada abad ke-16 atau akhir kekuasaan Majapahit, Nusantara yang terkenal karena kemegahan baharinya seperti terkena badai. Kemerosotan terjadi di mana-mana. Kemerosotan paling fatal ditandai dengan tergusurnya pemikiran tentang “kelautan”. Maka, saatnya kita kembali menengok laut.

Memungkasi catatan ini, izinkan mengutip sepotong sajak Belanda yang dikutip ahli kelautan, Adrian B Lapian: Laut itu baik, laut itu besar; air asin memberi roti yang paling manis.

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar