#KemarauPanjang#padi#KekeringanLahan

Kemarau Jadi Masalah Utama Pertumbuhan Tanaman

( kata)
Kemarau Jadi Masalah Utama Pertumbuhan Tanaman
ilustrasi. Dok/Lampost.co

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Musim kemarau berkepanjangan membuat cadangan air yang tersimpan di tanah, menyusut dan mengering. Kondisi tersebut sangat memengaruhi pertumbuhan tanaman.

Bagi tanaman air dibutuhkan untuk proses fotosintesis dan transpirasi (penguapan air dari permukaan daun tumbuhan), pengangkut, dan pelarut unsur hara dari tanah. "Air menjadi unsur utama tanaman. Karena panjangnya musim kemarau saat ini, banyak tempat yang mengalami kekeringan," ujar Kasi Tanaman Tahunan dan Penyegar Dinas Perkebunan dan Peternakan Lampung Masroha saat dihubungi Lampost.co, Jumat, 18 Oktober 2019.

Musim kemarau panjang menyebabkan lingkungan kering kerontang karena tetesan butiran air hujan tak kunjung turun. Dia mencontohkan tanaman padi sampai panen membutuhkan 450—700 liter per meter persegi. Jika takaran ini tak terpenuhi, gagal panen akan terjadi. Riset yang lain menunjukkan untuk menghasilkan 1 kilogram beras, tanaman padi memerlukan 2.500 liter air.

"Dalam konteks perkebunan, kelapa sawit memerlukan 300—350 liter air/batang/hari. Tanaman kakao memerlukan 36—71 liter air/batang/hari. Jika persediaan air kurang dari itu, pertumbuhan batang dan buah tanaman ini lebih lambat," ujarnya.

Dia mengakui kini ketersediaan air semakin menipis berkisar 50%—60% untuk Lampung. “Namun hal tersebut dapat tertutup dengan adanya beberapa titik sumur bor. Meskipun hujan tak datang, tetap terus ada airnya," katanya.

Masalah kekeringan makin rumit karena banyak petani dan perusahaan membuka lahan dengan cara menebang dan membakar di Indonesia, terutama pada lahan basah dengan vegetasi alami pada hutan rawa-gambut, seperti di Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Jambi, dan Kalimantan. Praktik pembakaran hutan rawa-gambut dilakukan pada musim kemarau saat air surut dan tanaman mengering.

Atika Oktaria SN

Berita Terkait

Komentar