#ekbis#hargasayuran#hargapasar#beritalampung

Kemarau, Harga Sayuran di Lampung Selatan Meroket

( kata)
Kemarau, Harga Sayuran di Lampung Selatan Meroket
Pedagang menggelar dagangannya. (Lampost.co/Aan Kridolaksono)

KALIANDA (Lampost.co) -- Memasuki musim kemarau, harga sayuran di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Lampung Selatan meroket sejak sepekan terakhir.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Lampost. co di pasar tradisional Desa Pematangpasir, Kecamatan Ketapang dan Pasar Inpres Kalianda, rata-rata kenaikan harga mencapai 100% dari harga sebelumnya.

Seperti harga bayam di Pasar Pematangpasir yang semula Rp1.500 melesat menjadi Rp4.000 per ikat. Kemudian harga sawi menembus Rp6.000 dari sebelumnya Rp2.500 per ikat, daun seledri yang semula Rp12 ribu kini menjadi Rp20.000 per kilo.

Kenaikan harga sayur mayur juga terpantau naik di Pasar Inpres Kalianda. Saat ini harga timun menjadi Rp8.000 atau naik Rp3.000 per kilo dari harga sebelumnya. Lalu harga terong yang biasanya hanya Rp5.000 naik menjadi Rp12.000 per kilo, kacang panjang Rp6.000 naik menjadi Rp12.000 per ikat, dan harga tomat dari Rp5.000 naik menjadi Rp12.000 per kilo. Sedangkan harga cabai rawit masih bertahan tinggi dikisaran Rp40 ribu per kilo.

Para pedagang sayur mayur di Pasar Inpres Kalianda maupun pasar tradisional di wilayah Kabupaten Lampung Selatan mengaku belum mengetahui persis penyebab kenaikan harga sayur mayur tersebut.

“Apa karena kemarau atau mendekati lebaran haji. Harga sayur mayur meroket, padahal pasokan masih normal. Belum ada kelangkaan,“ kata Sumani, seorang pedagang sayur mayur di Pasar Desa Pematangpasir, Kecamatan Ketapang, kepada Lampost.co, Kamis (2/8/2018).

Aan Kridolaksono



Berita Terkait



Komentar