tempe

Keluh Kesah Pengrajin Tempe Kian Hari Harga Kedelai Naik

( kata)
Keluh Kesah Pengrajin Tempe Kian Hari Harga Kedelai Naik
Sumiyati (35), pengrajin tempe di Gunung Sulah, Bandar Lampung keluhkan kenaikan harga kedelai yang berpengaruh ke proses pembuatan dan penjualan tempe yang ia produksi. (Lampost.co/Atika Oktaria)


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Suasana hiruk pikuk tak terlihat di pemukiman Gunung Sulah, daerah yang biasanya penuh dengan aktivitas warganya yang berjibaku dengan olahan kedelai, kini terhenti sejenak. Bukan tanpa sebab, karena kebingungan dan keresahan yang menghantui para pengrajin.

Sumiyati (35) salah satu pengrajin tempe di Gunung Sulah ini mengatakan, bahwa hari ini tak beroperasi karena bahan yang belum dibelinya. Karena bahan pokok yang kian hari membengkak, menjadikan kebingungan baginya bagaimana untuk membagi hasil ke pegawainya.

"Hari ini libur dulu, kami bingung mau beli bahan yang mahal ini, karena mau dinaikan harganya kasian sama pedagang di pasar, mau kita enggak produksi lama tapi ini merupakan pencarian utama kami," katanya, Senin, 4 Januari 2021. 

Kacang kedelai yang ia peroleh dari agen ini menurutnya memberatkan usahanya, bahkan dengan peluh kesah ia menjelaskan sejak Desember 2020 lalu usaha tempenya terperosot jatuh karena harga kedelai yang tak masuk akal.

"Sebenarnya naiknya sejak awal corona, tapi paling parah naiknya ya bulan Desember ini, bener-bener mencekik banget harganya," kata dia. 

Untuk harga sebelumnya, satu kilogram kedelai sebesar Rp68 ribu dan sejak awal Desember naik menjadi Rp92 ribu per kilogram. "Bahkan harga ini tiap hari berganti, kalau siang bisa Rp92 ribu selang berapa jam di sore hari berubah jadi Rp95 ribu. Enggak tentu harganya dan ini yang bikin kami bingung ngolah tempe seperti apa," katanya.

Dalam satu hari, Sumiyati bisa mengolah satu kwintal biji kedelai menjadi tempe. Namun, kali ini ia kesulitan membentuk ukuran dan isinya karena tak ingin pelanggan kecewa jika harga yang harus naik dengan pesat.

"Kalau mau ubah ukuran plastik juga ya keliatan banget kecil, kalau kita dikitin isinya bakal terlihat banget hasilnya enggak padet. Jadi serba salah, sedangkan kalau kami naikan harga itu bener-bener bikin pedagang kecil jerit," ujarnya. 

Biasanya, dalam sehari ia dapat memperoleh untung sebesar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu dalam sekali olah. Sekarang hanya Rp100 ribu dan harus dibagi ke pegawai yang bekerja dengan dia. 

"Rp100 ribu itu ya kami olah, makanya enggak ketemu sebenernya untungnya ini. Tapi mau gimana lagi kalau kami enggak produksi mau makan dari mana," katanya. 

Adapun harapan dari Sumiyati untuk harga kedelai segera normal kembali. "Semoga harganya normal lagi, soalnya sudah paling mahal ini menurut saya harganya. Kami pengrajin kebingungan olahnya," tutup dia.

 

Ricky Marly







Berita Terkait



Komentar