#Opini#Tes#CPNS

Keluar dari Sikap Cengeng

( kata)
Keluar dari Sikap Cengeng
ILustrasi Tes CPNS (Dok.Lampost)

TAHUN ini, pemerintah membuka 238.015 formasi calon pegawai negeri sipil (CPNS). Proses seleksi tahap awal hampir selesai. Data menunjukkan tingkat kelulusan CPNS dalam ujian kompetensi dasar hanya sekitar 8% (sekitar 136 ribu) dari 1,7 juta peserta di seluruh Indonesia (Media Indonesia, Kamis [15/11]).

Fenomena ketidaklulusan peserta tes memunculkan polemik. Yang satu menyebut standar nilai kelulusan terlalu tinggi, yang lain menuduh kualitas peserta tes memang buruk. Karena itu, yang satu ingin agar standar kelulusan diturunkan dan yang lain justru menyebut titik soal bukan di situ. Yang kedua, malah mengatakan bahwa kebodohan kita jangan sampai ditoleransi untuk sebuah investasi bangsa jangka panjang.

Karena itu, fenomena gagal lolos harus dilihat dan dibaca sebagai kegagalan pendidikan kita. Disebut demikian karena fakta itu jelas berhadapan dengan cadangan pengetahuan yang ada di kepala peserta. Menyebut pengetahuan, lembaga pendidikan menjadi satu-satunya yang harus dicek dan diperiksa. Editorial MI (Kamis [15/11]) keras menyebut bahwa ketidaklulusan itu merupakan cerminan kegagalan dunia pendidikan.

Bagaimana kita menyikapi realitas itu? Tulisan ini ingin menjelaskan kecengengan generasi Indonesia berhadapan dengan realitas gagal. Karena standar nilai menjadi patokan dan kita mengutuk tingginya standar nilai, kita sebenarnya gagal membangun peradaban.
Dua hal menjadi alasan utama. Pertama, pendidikan merupakan indikator utama peradaban. Jika kualitas pendidikan rendah, kualitas peradaban jelas rendah dan begitu sebaliknya. Kedua, kecengengan yang muncul jelas bukan karena kita demikian cengeng. Sikap itu dibentuk secara sosial.

Kualitas Pendidikan

Tes CPNS merupakan ujian untuk menguji pendidikan kaum berpendidikan. Yang diuji ialah kapasitas diri setiap peserta, baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Beberapa fenomena ini menuntun kita mencari tahu akar, sebab, dan solusi kegagalan CPNS dan fenomena irasionalitas rasional dalam masyarakat modern. Memeriksa akar, sebab, dan solusi atas masalah gagal lolos banyak calon PNS berarti mendiskusikan kualitas manusia.

Karena berkaitan dengan kualitas manusia, lembaga-lembaga yang berkaitan dengan kualitas harus pula diperiksa. Merujuk logika demikian, pendidikan, keluarga, agama, dan lembaga sosial lainnya harus disebut dan laik dibahas. Beberapa lembaga itu harus diperiksa dalam rangka menganalisis kegagalan peserta tes CPNS, terutama menganalisis kualitas generasi muda Indonesia.

Pendidikan harus ditempatkan sebagai sentrum analisis. Penyebutan pendidikan sebagai pusat tentu bukan karena lembaga lain tidak penting. Merujuk laporan Programme for International Student Assessment (PISA) pada 2015, Komnas HAM (2018) menyebutkan peringkat pendidikan Indonesia berada pada posisi 64 dari 72 negara anggota Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Di ASEAN, ranking pendidikan Indonesia nomor 5 di bawah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand.

Menurut data BPS pada 2017, angka partisipasi sekolah (APS) di pendidikan formal adalah sebagai berikut. APS Sekolah Dasar (7—12 tahun) mencapai 99,08%; APS SMP (13—15 tahun) sebanyak 94,98%, APS SMA (16—18 tahun) ada 71,20%; APS Perguruan Tinggi (19—24 tahun) hanya 24,67%.

Munirah (2015) menyebut dalam tiga tahun mendatang, pembangunan pendidikan nasional di Indonesia masih dihadapkan pada berbagai tantangan serius. Terutama, dalam upaya meningkatkan kinerja yang mencakup pemerataan dan perluasan akses, peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing, serta penataan tata kelola, akuntabilitas, citra publik, juga peningkatan pembiayaan.

Soal tentang Soal  

Pernyataan cengeng banyak pihak berhubungan dengan satu hal: soal tentang soal. Banyak orang yang gagal memikirkan kualitas diri dan asupan gizi pengetahuan di kepala. Sungguh memalukan. Jika dicermati dengan lebih serius, soal tes CPNS tahun ini maupun sebelumnya memiliki pola yang sama. Semuanya menguji pengetahuan calon PNS/ASN atas Pancasila, kewarganegaraan, dan praksis dua hal itu dalam dunia kerja dan dunia sosial ke depan.

Merujuk Munirah, kualitas pendidikan kita memang harus diperiksa dari banyak aspek. Pertanyaan selanjutnya ialah mengapa kualitas pendidikan kita buruk? Harus dipahami pendidikan kita lebih cenderung mengabdi kepada kekuatan liberalisme. Kapitalisasi pendidikan ialah contoh paling wahid bagaimana pendidikan kita diarahkan untuk kepentingan pragmatis rezim liberalisme. Rezim inilah yang kental memproduksi generasi cengeng.

Dengan menggenggam pendidikan, kapitalisme dan neoliberalisme telah memegang jantung peradaban. Memengaruhi dunia pendidikan dilakukan melalui substansi kurikulum. Maka, kita bisa melihat perubahan dan gonta-ganti kurikulum dilakukan seturut kemauan dan kepentingan dua rezim ini.

Dalam diri kapitalisme dan neoliberalisme, wajah pendidikan menjauh dari corak humanistis dan lebih cenderung bermuka pragmatis, teknis, dan serbakalkulatif. Di situ, ragam konsep menjadi tidak penting dan karena itu dibuang jauh.

Saatnya Berubah

Kita butuh model pendidikan yang berupaya menemukan kembali nilai-nilai dasar yang dahulu dipegang kuat masyarakat dan sekarang nilai itu hilang lenyap digerus modernitas. Itu berarti kita harus kembali menggali nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat kita.
Fakta kegagalan banyak calon peserta tes CPNS dan kecengengan banyak pihak yang meminta panitia seleksi menurunkan standar kelulusan merupakan usaha mundur kembali ke belakang.

Dunia kerja butuh manusia berkualitas. Kemunduran pemerintahan Indonesia selama ini jangan-jangan disebabkan buruknya kualitas ASN. Maka, aneh jika banyak bupati dan gubernur meminta pansel menurunkan standar kelulusan. Banyak instansi kekurangan tenaga memang sulit ditolak, tetapi bijak kiranya jika pemimpin berpikir ke depan. Bahwa, ASN tidak hanya terlihat banyak, tetapi yang paling utama ialah kualitas ASN itu. Segera membuang sikap cengeng menjadi urgen di sini.

 

 

Lasarus Jehamat/Dosen Sosiologi Fisip Undana Kupang

Berita Terkait

Komentar