#irak#iran

Kelompok Pro-Iran Tuding Pemilu Irak Sebagai Penipuan

( kata)
Kelompok Pro-Iran Tuding Pemilu Irak Sebagai Penipuan
Warga membawa foto Moqtada al-Sadr dalam merayakan kemenangannhya dalam pemilu Irak, 11 Oktober 2021. (AFP)


Tehran (Lampost.co) -- Sejumlah partai Muslim Syiah pro-Iran dan beberapa kelompok bersenjata di Irak mengecam pemilihan umum legislatif yang berlangsung pada hari Minggu kemarin. Menurut mereka, pemilu tersebut dipenuhi "manipulasi" dan "penipuan."

 

Kecaman disampaikan pada Selasa, 12 Oktober 2021, dua hari setelah pemilu legislatif Irak.

Dilansir dari AFP, Selasa, 12 Oktober 2021, pemilu legislatif kemarin menjadi yang kelima di Irak. Dalam pemilu kali ini, tingkat partisipasi warga relatif rendah, yakni hanya berada di kisaran 41 persen.

Sejumlah partai yang mewakili mayoritas Muslim Syiah disebut telah mendominasi politik Irak sejak invasi Amerika Serikat di tahun 2003. Namun, hasil awal penghitungan suara dari pemilu legislatif pada akhir pekan kemarin memperdalam keretakan antara faksi-faksi kuat di dalam kubu Muslim Syiah Irak.

Menurut hasil penghitungan awal Komisi Pemilu Irak, pemenang terbesar sejauh ini adalah gerakan milik ulama Syiah Moqtada al-Sadr, yang telah meningkatkan keunggulannya menjadi 73 dari total 329 kursi parlemen.

Aliansi Fatah, yang sebelumnya merupakan blok terbesar kedua di parlemen Irak, disebut mengalami penurunan tajam dukungan dari 48 kursi menjadi hanya sekitar 12.

"Kami akan mengajukan banding atas hasil pemilu. Kami menolaknya,” kata pernyataan bersama beberapa partai Syiah, termasuk Aliansi Fatah.

Salah satu faksi terkuat PMF, Brigade Hizbullah, menolak hasil pemilu dan menyebutnya sebagai sebuah "manipulasi dan penipuan terbesar yang dialami rakyat Irak dalam sejarah modern."

PMF dibentuk pada 2014 dan memainkan peran penting dalam kekalahan kelompok militan Islamic State (ISIS). Sejak tumbangnya ISIS, PMF telah diintegrasikan ke dalam aparat keamanan negara Irak.

Winarko







Berita Terkait



Komentar