#ekbis#keripiklampung#beritalampura

Kelesuan Usaha Keripik Pisang di Tengah Pandemi Covid-19

( kata)
Kelesuan Usaha Keripik Pisang di Tengah Pandemi Covid-19
Fitriyani, salah satu perajin keripik pisang sedang menggoreng keripik di kediamannya, Senin, 20 Juli 2020. Lampost.co/Yudhi Hardiyanto


Kotabumi (Lampost.co): Sejak terjadi pandemi covid-19, omzet penjualan keripik pisang di Lampung Utara mengalami penurunan. Hal itu berdampak pada pendapatan para perajin keripik pisang di wilayah setempat.

"Rata-rata penjualan keripik pisang berkisar 50 kg seminggu. Sejak terjadi pandemi, untuk menjual 50 kg keripik pisang paling tidak sekitar dua minggu," ujar Fitriyani, salah satu perajin keripik pisang dan juga anggota kelompok PKK Asoka di Dusun Madyodadi, Desa Kemalo Abung, Kecamatan Abung Selatan, Senin, 20 Juli 2020.

Varian rasa keripik pisang yang dia produksi ada empat rasa. Yakni; pisang gurih, pisang balado, pisang cokelat, dan pisang jagung manis.

Untuk melakukan penjualan, dia menyetor hasil olahan keripik pisang itu ke KUD di desa dan menitipkan ke warung-warung kecil di seputar desanya.  

"Penjualan keripik saat ini masih di lingkup tiga desa. Selain Desa Kemalo Abung, serta dua desa tetangga, yakni Desa Trimodadi dan Desa Ratubbung," kata dia. 

Harga per sisir pisang kepok pertanian sebagai bahan baku pembuatan keripik dia dapatkan dengan harga Rp5 ribu. Untuk penjualan keripik per 2 ons ke konsumen di banderol Rp7 ribu. Sementara keuntungan yang didapat berkisar 30 persen setelah di potong biaya modal dan biaya lainnya, seperti pembelian minyak goreng, plastik serta bahan bumbu keripik. 

"Saya berharap usaha ini terus maju serta berkembang. Saya optimis dapat melalui kelesuan penjualan sejak terjadi covid-19 ini," kata dia.

Adi Sunaryo







Berita Terkait



Komentar