lampurakekerasan

Kekerasan Perempuan dan Anak di Lampura Capai 30 Kasus

( kata)
Kekerasan Perempuan dan Anak di Lampura Capai 30 Kasus
dok Lampost.co

KOTABUMI (Lampost.co) -- Peristiwa kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Lampung Utara menginjak angka 30 kasus.

Kepala DP3A Lampura, Maya Manan mengungkapkan sampai dengan periode awal September 2020, telah terjadi sebanyak 30 kejadian menimpa perempuan dan anak. Baik itu kekerasan maupun perlakuan cabul diterima, sehingga membutuhkan perhatian lebih dalam upaya menekan angka kekerasan dan prilaku menyimpang lainnya.

"Itu perlu menjadi perhatian khusus, khususnya para orang tua atau wali. Sehingga dapat terhindar menjadi korban, bahkan pelaku itu sendiri, "kata dia, Selasa, 8 September 2020.

Menurut Maya Manan perlu para orang tua untuk ikut andil menjaga putra-putrinya dalam upaya menangkal aksi kekerasan serta perlakuan tak mengenakkan lainnya.  Oleh karena itu pihaknya berkomitmen untuk terus melakukan tugas dan fungsi pokoknya dalam hal tersebut. 

"Kita butuh ini, terutama media dapat berpartisipasi aktif ikut andil dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat. Sehingga dapat membuka pola pikirnya, "terangnya.

Dan selama ini, kata dia, pihaknya selalu proaktif terhadap segala permasalahan yang ada dilapangan. Khususnya kepada mereka menjadi korban asusila atau kekerasan menimpa anak dan perempuan umumnya. Seperti melakukan pendampingan terhadap kondisi kesehatan, baik itu fisik maupun psikologi sampai kepada aspek hukum. 

"Bahkan belum lama ini kita mendampingi korban untuk memacu semangat hidup (spirit) sampai di Bandar Lampung, khususnya mendampingi ke psikiater. Itu tidak dipungut biaya, bahkan ditanggung oleh pemerintah. Sampai keadaan dia benar-benar baik, dan dapat kembali beraktivitas normal dilingkungannya, "imbuhnya.

Maya menjelaskan dengan kemajuan ilmu tekhnologi juga berpengaruh terhadap prilaku maupun sikap anak. Sehingga dibutuhkan perhatian khusus para orang tua, agar tidak melakukan hal menyimpang. Serta memberikan pemahaman tentang agama yang baik.

"Itu yang menjadi bentengnya, agama. Oleh karena itu perlu memberikan pemahaman agama sebagai tembok penghalang, jangan sampai terjebak kedalam kemajuan zaman. Khususnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi, "pungkasnya.

Sebelumnya, Kepala DP3A Lampura, Maya Manan berujar pihaknya siap memberikan pendampingan kepada  korban pencabulan anak dibawah umur menimpa warga di Lampura belum lama ini. Mulai dari segi kesehatan, psikologi sampai dengan masalah hukum.

"Betul tadi pagi ada yang melaporkan kepada kita orang tua wali yang anak menjadi korban pencabulan anak dibawah umur. Kebetulan ditempat kami sudah ada unit (UPT) perlindungan perempuan dan anak, merekalah nanti yang akan melakukan pendampingan. Dari segala aspek dialami korban, termasuk masalah hukum, "kata Maya saat dimintai tanggapan mengenai kasus asusila anak kelas dua sekolah dasar/sederajat di kabupaten tertua di Lampung itu, Senin, 7 September 2020.

Sesuai dengan peraturan perundang-perundangan bagi perlindungan perempuan anak, lanjutnya, seharusnya pelaku mendapatkan hukum yang tinggi. Namun dalam perkara itu, pelakunya juga adalah anak dibawah umur. Sebab, masih berumur 15 tahun, sehingga perlu diberikan perhatian terhadap mental dan kejiwaannya.

"Tapi khusus untuk korban adalah perhatian utama kami, jadi kami akan maksimal melakukan pendampingan. Termasuk segi kesehatan dan psikologi, "pungkasnya.
 

Setiaji Bintang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar