#uukonsumen#pemalsuandaging#beritalampung

Kejati Tindak Lanjuti Perkara Steak Daging Wagyu Palsu

( kata)
Kejati Tindak Lanjuti Perkara <i>Steak</i> Daging Wagyu Palsu
Ilustrasi: Foto: Dok


Bandar Lampung (Lampost.co): Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung memastikan perkara pemalsuan bahan menu daging wagyu (daging sapi premium) yang menjerat pemilik restoran Darlene's Steak House atas nama Sulantip Teja bakal menindaklanjuti.

Kejati Lampung bakal menindaklanjuti keterlibatan penyuplai daging didalamnya. Hal ini dikatakan Kasi Penkum Kejati Lampung Andrie W Setiawan, Selasa, 1 September 2020.

"Ada nggak fakta persidangan nanti niat jahat soal penipuan daging. Kalau memang ada mengarah kesana ya harus ditindaklanjuti. Semisal asal daging mengatakan itu daging wagyu, tapi kenyataannya bukan ya harus ditindaklanjuti oleh penyidik," kata dia.

Menurutnya ini wewenang penyidikan diawal kasus, apakah ada keterlibatan penyuplai daging atau tidak. "Kalau kita ini pembuktian di persidangan sesuai yang disidik oleh penyidik," katanya.

Soal keterlibatan asal muasal daging, kata Andrie, masih melihat dari fakta sidang dan keterangan para saksi yang dihadirkan. "Fakta itu muncul tidak di berkas, apakah penyidik mau menindaklanjuti atau tidak, tunggu hasil dari pengadilan," katanya.

Dalam dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum Sabi'in menuturkan terdakwa Sulantif Teja alias Ipun sebagai pelaku usaha restoran menjual makanan tidak sesuai dengan datar menu yang ada yaitu mempromosikan atau mengiklankan produk mencantumkan takaran gram dalam buku menu makanan dan memperdagangkan steak daging sapi wagyu dengan promosi melalui banner sapi wagyu dan buku menu yang bertuliskan steak daging sapi wagyu.

"Ternyata daging tersebut merupakan hasil silangan yaitu daging sapi Australia (Santori) serloin yang harganya Rp125-175 ribu, tenderloin yang harganya hanya Rp150 hingga Rp200 ribu," kata Jaksa. 

Terdakwa juga dengan sengaja menggunakan timbangan tanpa ada tera ukur, sebagaimana tercantum dalam Pasal 25, UU.RI No. 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal.

Adi Sunaryo







Berita Terkait



Komentar