#kejarimesuji#terminaltipec

Kejari Mesuji Segera Umumkan Tersangka Pembangunan Terminal Tipe C

( kata)
Kejari Mesuji Segera Umumkan Tersangka Pembangunan Terminal Tipe C
Foto:Kejari Mesuji Segera Umumkan Tersangka Pembangunan Terminal Tipe C. Lampost.co/Ridwan Anas.


Mesuji (Lampost.co)--- Kasus pembagunan terminal tipe C senilai Rp1.777.000.000 tahun 2022 di Kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM), Desa Tanjung Mas Makmur, Kecamatan Mesuji Timur, Kabupaten Mesuji memasuki tahap akhir. Kejaksaan Negeri (Kejari) Mesuji segera umumkan nama nama tersangka dalam kasus tersebut.

Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Mesuji, Leonardo Adiguna mengungkapkan jika tahapan  penetapan tersangka atas dugaan kasus korupsi terminal terus berjalan.

“Kami sedang menunggu proses penghitungan kerugian negara atas pembangunan terminal. Penghitungan dilakukan oleh pihak yang ditunjuk oleh Kejati, nanti hasilnya keluar, kita segera umumkan siapa tersangkanya,” ujarnya.

Baca juga: Dugaan Korupsi Terminal Tipe C, Kejari Mesuji Akan Panggil Pegawai Kemendes PDTT

Masih kata Leo, jika dalam kasus pembangunan terminal itu melibatkan banyak pihak termasuk Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigras (Kemendes PDTT).

"Jadi tersangka itu bisa satu, bisa dua, atau tiga tergantung fakta-fakta hukum dan sidang nanti. Dan siapapun memiliki kemungkinan untuk jadi tersangka," lanjutnya. 

Baca juga: Kemendes PDTT Tunggu Hasil Pemeriksaan Kejari Soal Terminal Tipe C Mesuji

Diberitakan sebelumnya, Kejari Mesuji sudah melakukan pemanggilan terhadap salah seorang pegawai Dirjen Transmigrasi, Kemendes PDTT.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Mesuji Azi Tyawhardana menerangkan jika unsur Dirjen Transmigrasi pada Kementrian Desa mengetahui keadaan faktual pelaksanaan kegiatan pengadaan barang dan jasa pada proyek pembangunan terminal tipe C tersebut. 

"Dari Hasil pemeriksaan saksi saksi didapatkan keterangan bahwa seorang unsur pejabat dari Dirjen Transmigrasi hadir ditempat pelaksanaan pekerjaan sebanyak 3 kali yaitu pada saat 0% pekerjaan dan saat pekerjaan mencapai 30% dan yang terakhir saat pekerjaan 100% tepatnya saat pelaksanaan serah terima sementara pekerjaan atau Provisional Hand Over (PHO)," jelas Azy.

 

Nurjanah








Berita Terkait



Komentar