#kasusjiwasraya#kejagung

Kejagung Tetapkan 5 Tersangka Korupsi Jiwasraya

( kata)
Kejagung Tetapkan 5 Tersangka Korupsi Jiwasraya
Ilustrasi. Dok/Medcom.id

Jakarta (Lampost.co) -- Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan lima orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi yang terjadi di PT Jiwasraya. Kelimanya ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan bukti yang cukup.
 
“Saya kira sebagaimana diketahui kita persangkakan Pasal 2 primer dan subsider Pasal 3 (UU Tipikor) atas dasar apa ya sesuai rumusan pasal itu,” kata Jampidsus Kejagung Adi Toegarisman di Kejagung, Jakarta, Selasa, 14 Januari 2020.
 
Kelima orang yang ditetapkan sebagai tersangka, yakni mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya, Hendrisman Rahim; mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan PT Jiwasraya, Syahmirwan; mantan Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya, Hary Prasetyo; Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM), Heru Hidayat; dan Komisaris PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro.

Mereka dijerat dengan Pasal 2 Ayat (1) juncto Pasal 18 Ayat (1) huruf b UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. Kelimanya juga terbukti bersalah melanggar Pasal 3 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Adi tak menjelaskan detail peran dari masing-masing tersangka. Alasannya, kasus ini masih pada tahap penyidikan.
 
“Itu kan masih strategi kami, kalau nanti pada saat waktunya di mana tahapannya kami akan secara terbuka sampaikan,” kata dia.
 
Adi juga ogah menjelaskan ihwal terjadinya skandal rasuah di perusahaan pelat merah tersebut. Dia hanya menegaskan penetapan kelima tersangka berdasarkan aturan hukum yang berlaku.
 
“Alat buktinya kami enggak menyimpang dari KUHAP, kami mengacu KUHAP 184. Saksi kemudian surat dan sebagainya, nanti kami lihat perkembangannya. Kami masih proses ke sana,” katanya.
 
Kasus Jiwasraya bermula dari laporan pengaduan masyarakat dan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta yang mengendus adanya dugaan tindak pidana korupsi sejak 2014 sampai dengan 2018.
 
Jiwasraya melalui unit kerja pusat bancassurance dan aliansi strategis menjual produk JS Saving Plan dengan tawaran persentase bunga tinggi berkisar antara 6,5 persen dan 10 persen sehingga memperoleh pendapatan total dari premi Rp53,27 triliun.
 
Hingga Agustus 2019, Jiwasraya menanggung potensi kerugian negara Rp13,7 triliun. Jiwasraya membutuhkan dana Rp32,89 triliun agar bisa mencapai rasio risk based capital (RBC) minimal 120 persen. Secara umum, RBC adalah pengukuran tingkat kesehatan finansial suatu perusahaan asuransi, dengan ketentuan OJK mengatur minimal batas RBC 120 persen.
 
Terdapat empat alternatif penyelamatan Jiwasraya. Mulai dari strategic partner yang menghasilkan dana Rp5 triliun, inisiatif holding asuransi Rp7 triliun, menggunakan skema finansial reasuransi Rp1 triliun, dan sumber dana lain dari pemegang saham Rp19,89 triliun. Jadi, total dana yang dihimpun dari penyelamatan tersebut Rp32,89 triliun.
 
Saat ini ada delapan perusahaan yang tertarik menyuntikkan dana untuk pemulihan Jiwasraya. Nantinya satu perusahaan dengan penawaran terbaik akan dipilih untuk menjadi pemegang saham di Jiwasraya Putra sebagai anak usaha dari Jiwasraya.
 
Jiwasraya Putra telah membuat perjanjian kerja sama distribusi, salah satunya melalui kerja sama kanal pemasaran bancassurance. Kerja sama tersebut akan menggandeng perusahaan BUMN seperti PT Bank Tabungan Negara Tbk, PT Pegadaian, PT Telekomunikasi Seluler, dan PT Kereta Api Indonesia.

Medcom



Berita Terkait



Komentar