#nasional#kasus-jiwasraya

Kejagung: Jiwasraya Lama Diincar

( kata)
Kejagung: Jiwasraya Lama Diincar
Direktur Penyidikan Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung, Febrie Ardiansyah/Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo

Jakarta (Lampost.co) -- Kejaksaan Agung (Kejagung) menyakini PT Asuransi Jiwasraya diincar sejak lama. Para tersangka berencana mengeruk uang dari perusahaan pelat merah itu.

"Setelah kami sinkronisasi temuan kami dengan BPK (Badan Pemeriksaan Keuangan), di situ kami tahu bahwa memang Jiwasraya ini sudah lama direncanakan untuk dibobol," ujar Direktur Penyidikan Jampidsus Febrie Adriansyah di Kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Rabu, 4 Maret 2020.

Menurut dia, transaksi saham Jiwasraya didesain merugi. Sehingga kondisi keuangan perusahaan memburuk dan berujung gagal bayar.

Febrie mengatakan BPK akan mengumumkan audit kerugian negara akibat kasus gagal bayar perusahaan pelat merah itu. Kerugian diprediksi tak jauh dari perhitungan tim penyidik, yakni sekitar Rp 17 triliun.

"Sekitar itu lah, tapi ada komanya, angka komanya tunggu teman-teman BPK," kata Febrie.

Kejagung menetapkan enam tersangka terkait kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Mereka ialah Komisaris PT Hanson International Tbk, Benny Tjokrosaputro; Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Tbk, Heru Hidayat; dan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya, Hendrisman Rahim.

Selanjutnya, mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan PT Jiwasraya, Syahmirwan; mantan Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya, Hary Prasetyo; dan Direktur Utama PT Maxima Integra, Joko Hartoni Tirto. Teranyar, Benny dan Heru ditetapkan sebagai tersangka pencucian uang.

Mereka dijerat Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 18 ayat (1) huruf b serta Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar