#kecelakaan#bus#kelalaian

Kecelakaan Bus Sriwijaya Akibat Kelalaian Perusahaan

( kata)
Kecelakaan Bus Sriwijaya Akibat Kelalaian Perusahaan
Anggota Basarnas sedang melakukan evakuasi korban bus Sriwijaya tujuan Bengkulu - Palembang yang jatuh ke jurang di Kota Pagaralam. Foto: Istimewa.

Jakarta (Lampost.co) --Polisi menilai salah satu penyebab kecelakaan maut Bus Sriwijaya di Sungai Lematang, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan akibat lemahnya kontrol Perusahaan Otobus (PO) Sriwijaya. Kakorlantas Polri Irjen Polisi Istiono menyebut ada beberapa faktor kelalaian perusahaan dalam menjalankan standar operasional prosedur keselamatan.
 
Faktor pertama, Perusahaan Otobus Sriwijaya mempekerjaan sopir bus tanpa memiliki SIM. Ini menunjukkan sopir bus tersebut tidak profesional.
 
"Tidak terbiasa melewati jalur tersebut. Saat menghadapi masalah, menjadi gugup dan tidak mampu mengatasi situasi yang berdampak los, tidak ada pengereman atau upaya penyelamatan darurat," kata Istiono dikutip dari Antara, Kamis, 26 Desember 2019.

Lanjutnya, PO Sriwijaya menugaskan sopir melalui jalur lain. Bahkan kapasitas tempat duduk sesuai perizinan hanya untuk 25 tempat duduk malah dipaksakan hingga 48 tempat duduk.
 
Berdasarkan penyelidikan, kata dia, bus tak laik jalan. Sebab bus telah dioperasionalkan selama 20 tahun sehingga kondisi bus tak sesuai dengan standar operasional keamanan.
 
"Ban belakang vulkanisir dan aus sehingga tidak berfungsi sebagai penahan saat dilakukan pengereman atau menyebabkan kendaraan meluncur los," tutur Istiono.
 
Keadaan itu diperparah dengan ruas jalan yang berliku dan tanpa dilengkapi rambu-rambu hingga pembatas jalan. Polisi telah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dengan memberdayakan teknologi dan melibatkan para pakar untuk mendukung proses penyidikan.
 
Istiono melanjutkan Korps Bhayangkara melakukan penyidikan secara virtual maupun manual buat membuktikan faktor penyebab kecelakaan maut Bus Sriwijaya itu. Melalui kajian ilmiah traffic accident research centre (TARC) untuk pencegahan, memberikan rekomendasi untuk memperbaiki infrastruktur, peningkatan kualitas keamanan maupun pembangunan dan rekayasa jalan.
 
TARC mengimbau agar kepolisian di seluruh Indonesia berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan setempat mengecek kelayakan armana bus dan pengemudinya.
 
Sebelumnya, Bus Sriwijaya BD-7031-AU rute Bengkulu-Palembang terjun ke jurang di Liku Lematang Jalan Lintas Pagaralam-Lahat KM 9 Desa Plang Kenidai Desa, Kecamatan Dempo Tengah, Kota Pagaralam, Senin, 23 Desember 2019 sekitar pukul 23.15 WIB. Bus diduga tidak mampu menanjak sehingga menyebabkan bus mundur dengan kecepatan tinggi dan menambrak beton pembatas. Bus terjun dari ketinggian 80 meter.

 

Medcom



Berita Terkait



Komentar