#HUTLampost#TalkshowKebudayaan

Kebudayaan Roh Pembangunan Daerah

( kata)
Kebudayaan Roh Pembangunan Daerah
FOTO: Acara Talk Show HUT Ke?46 Lampung Post bertema “Membangun Daerah dengan Pendekatan Budaya”, Sabtu, 15 Agustus 2020, pukul 10.00?12.00, di kantor Lampung Post. (Chairil Anwar/Lampost.co)

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Kebudayaan yang sarat dengan nilai-nilai kebaikan adalah fondasi dalam mewujudkan pembangunan sebuah daerah. Sebab, kehidupan yang sejahtera akan terwujud jika masyarakat mampu menerapkan falsafah luhur adat-istiadat.

Konklusi itu menyimpul dalam Talk Show HUT Ke-46 Lampung Post bertema “Membangun Daerah dengan Pendekatan Budaya”, Sabtu, 15 Agustus 2020, pukul 10.00-12.00, di kantor Lampung Post.

Dalam acara itu, hadir sebagai pembicara Bupati Tulangbawang Barat Umar Ahmad, Bupati Lampung Timur Zaiful Bokhari, Juru Bicara Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong, Seem R. Canggu Raja Duta Perbangsa, Juru Bicara Rektor Universitas Lampung Nanang Trenggono, dengan dipandu oleh pewara Abdul Gafur.

Dalam paparannya, Umar Ahmad mengatakan pihaknya mewujudkan pembangunan di daerah dengan berbasis kebudayaan. Bupati menganggap bahwa daerah yang memegang teguh kebudayaan adalah daerah yang menumbuhkan kebaikan.

“Ketika kami mendeklarasikan sebagai daerah yang membangun dengan budaya, masuk banyak investor bahkan dari India. Mereka sepakat jika suatu daerah menumbuhkan kebaikan, mereka akan berinvestasi, karena itu akan bermuara kesejahteraan,” kata Umar Ahmad.

Ketika investor sudah masuk, lanjut dia, tentu pembangunan fisik akan terlihat. “Begitu menyentuh rohnya, fisik ini akan berkembang, meskipun dari awal kami tidak pernah memfokuskan ini kepada kesejahteraan, hanya ingin mewujudkan masyarakat yang bahagia,” ujarnya.

Hal itu senada dengan penjelasan yang diutarakan Nanang Trenggono. Dia mengatakan bahwa jalan kebudayaan itu beriringan dengan jalan ekonomi. “Kita harus meluruskan bahwa budaya dan ekonomi itu saling berhubungan, bukan terpisah,” katanya.

Menurut Nanang, sebelum adanya proyek nasional seperti jalan tol, sejak dahulu pembangunan di Lampung kurang progresif. Selain karena faktor kepemimpinan, ada hal lain yang memengaruhi seperti konflik, kejahatan, masalah lainnya.

“Saya bukan menjustifikasi. Tapi, pembangunan memang mesti fokus pada masyarakatnya dahulu. Harus ada pendekatan untuk mengurangi hal-hal negatif terebut, salah satunya dengan mencukupi kebahagiaan masyarakat lewat kebudayaan ini,” ujar dia.

Nemui Nyimah

Sementara itu, Bupati Lampung Timur Zaiful Bokhari menjelaskan kabupatennya juga melakukan pembangunan berbasis kebudayaan. Dia menambahkan Lamtim yang terdiri dari sekitar 1,3 juta penduduk memiliki penduduk yang heterogen.

Karena suku asli Lampung di Lamtim sendiri semakin sedikit, pihaknya melakukan tradisi seangkenan muakhi dengan seluruh suku yang ada di Lamtim, seperti Jawa, Sumatera, hingga Sulawesi. Selain itu, Lamtim juga menggalakkan nemui nyimah bersama masyarakat dan manjau debingi pada malam hari.

“Pembangunan membutuhkan peran bersama seluruh masyarakat. Dengan melakukan pendekatan-pendekatan budaya seperti seangkenan muakhi, nemui nyimah, atau manjau debingi, semua bisa bergandengan tangan untuk membangun daerah. Nilai budaya mampu merekatkan masyarakat yang beragam,” kata Bupati.

Di kesempatan yang sama, Seem Canggu menguraikan bahwa kebudayaan luhur harus dijadikan dasar dalam membangun daerah. Menurutnya, budaya selama ini berperan mampu mengelola potensi sumber daya sehingga tetap ada dan lestari.

“Ada rumpun bambu 10, yang diambil 7, yang 3 dibiarkan supaya bambu tetap lestari. Kalau sekarang, bambu diambil semua. Akhirnya habis,” kata dia menganalogikan.

Seem melanjutkan dasar budaya untuk menuju kepada suatu kesejahteraan sudah terkelola dengan baik dari zaman dahulu. “Tinggal kita mewariskan hal itu dengan baik,” ujarnya.

Abdul Gafur



Berita Terkait



Komentar