#nurhadi#KPK

Keberadaan Nurhadi Terendus di Bogor

( kata)
Keberadaan Nurhadi Terendus di Bogor
Eks Sekretaris MA Nurhadi. MI/Rommy Pujianto

Jakarta (Lampost.co) --  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga tersangka kasus dugaan suap pada penanganan perkara di Mahkamah Agung dan gratifikasi, Nurhadi, tengah berada di kawasan Bogor, Jawa Barat. Penyidik Lembaga Antirasuah pun sudah menggeledah sebuah vila yang diduga milik Nurhadi di kawasan Bogor.
 
"Para DPO, NH, dan kawan-kawan dan istri belum ditemukan oleh KPK," kata Pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK Ali Fikri di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Senin, 9 Maret 2020.
 
Ali mengatakan penggeledahan yang dilakukan sejak siang tadi masih berlangsung. Penyidik juga masih mencari keberadaan Nurhadi, Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT) Hiendra Soenjoto, dan menantu Nurhadi, Rezky Herbiono, yang sudah menjadi buronan KPK.

Ali menyampaikan KPK juga coba mengejar istri Nurhadi, Tin Zuraida, dan istri Hiendra, Lusi Indriati yang tak kooperatif. "Para istri tersangka kita panggil tiga kali (tapi) mangkir dari panggilan," ujar Ali.
 
Penyidik menyita belasan motor dan sebuah mobil yang diduga milik salah satu tersangka dalam penggeledahan di kawasan Bogor ini.
 
"Ada beberapa motor mewah belasan jumlahnya, motor gede begitu ya, dan kemudian ada empat mobil mewah yang terparkir di gudang di sebuah vila yang diduga milik tersangka NH," tutur Ali.
 
Baca:Adik Ipar Mengaku Lama Tak Berkomunikasi dengan Nurhadi
 
Ali masih enggan merinci hasil lanjutan dari penggeledahan tersebut. Pasalnya, tim masih bekerja di lokasi dan tak menutup kemungkinan vila tersebut bakal disegel.
 
"Karena ini bagian dari aset penting juga, kaitannya juga bagian dari penerimaan-penerimaan yang kita sangkakan, tentunya ada tindakan-tindakan hukum dari penyidik KPK terhadap aset-aset yang dimiliki oleh tersangka," ucap Ali.
 
Dalam kasus ini, Nurhadi diduga menerima suap Rp33,1 miliar dari Hiendra lewat Rezky. Suap dimaksudkan untuk memenangkan Hiendra dalam perkara perdata kepemilikan saham PT MIT. Nurhadi juga diduga menerima sembilan lembar cek dari Hiendra terkait peninjauan kembali (PK) perkara di MA.
 
Pada kasus gratifikasi, Nurhadi diduga mengantongi Rp12,9 miliar dalam kurun waktu Oktober 2014-Agustus 2016. Gratifikasi diduga terkait pengurusan perkara sengketa tanah di tingkat kasasi dan PK di MA, dan permohonan perwalian.
 
Sebagai penerima, Nurhadi dan Rezky disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b subsider Pasal 5 ayat (2) lebih subsider Pasal 11 dan/atau Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Hiendra disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b subsider Pasal 13 Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP.
 

Setiaji Bintang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar